Senin, 21 Januari 2013

hormone tiroid n antitiroid

hormon tiroid dan antitiroid, mungkin sudah banyak yang mengetahui tentang jenis hormone ini dan sesab akibat mengenainya. tulisan ini dibuat untuk memenuhi tugas mata kuliah farmakologi.. yang mana waktu itu materinya di bagi berdasarkan kelompok.. kebetulan kelompok saya mendapatkan materi ini...
HORMON TIROID DAN ANTITIROID

2.1 Kelenjar Tiroid
Kelenjar tiroid ialah organ endokrin yang terletak di leher manusia. Fungsinya ialah mengeluarkan hormon tiroid. Antara hormon yang terpenting ialah Thyroxine (T4) dan Triiodothyronine (T3). Hormon-hormon ini mengawal metabolisma (pengeluaran tenaga) manusia.
Kelenjar tiroid terdiri dari dua lobus, satu di sebelah kanan dan satu lagi disebelah kiri. Keduanya dihubungkan oleh suatu struktur ( yang dinamakan isthmus atau ismus. Setiap lobus berbentuk seperti buah pir. Kelenjar tiroid mempunyai satu lapisan kapsul yang tipis dan pretracheal fascia. Pada keadaan tertentu kelenjar tiroid aksesoria dapat ditemui di sepanjang jalur perkembangan embriologi tiroid.
Struktur ismus atau isthmus yang dalam bahasa Latin ertinya penyempitan merupakan struktur yang menghubungkan lobus kiri dan kanan. Posisinya kira-kira setinggi cincin trakea 2-3 dan berukuran sekitar 1,25 cm. Anastomosis di antara kedua arteri thyroidea superior terjadi di sisi atas ismus, sedangkan cabang-cabang vena thyroidea inferior ber-anastomosis di bawahnya. Pada sebahagian orang dapat ditemui lobus tambahan berupa lobus piramidal yang menjulur dari ismus ke bawah
Darah ke kelenjar tiroid dibekalkan oleh arteri superior thyroid yang merupakan cabang pertama arteri external carotid(ECA). Arteri ini menembusi pretracheal fascia sebelum sampai ke bahagian superior pole lobe kelenjar tiroid. Saraf laryngeal terletak berhampiran (di belakang) arteri ini, jadi jika dalam pembedahan tiroidektomi, kemungkinan besar saraf ini terpotong jika tidak berhati-hati.
Kelenjar tiroid juga dibekalkan oleh arteri inferior thyroid yang merupakan cabang daripada thyrocervical trunk (cabang daripada arteri subclavian). Dalam 3% populasi manusia, terdapat satu lagi arteri ke kelenjar tiroid, iaitu arteri thyroid ima.
Sel tiroid adalah satu-satunya sel dalam tubuh manusia yang dapat menyerap iodin atau yodium yang diambil melalui pencernaan makanan. Iodin ini akan bergabung dengan asam amino tirosin yang kemudian akan diubah menjadi T3 (triiodotironin) dan T4 (triiodotiroksin). Dalam keadaan normal pengeluaran T4 sekitar 80% dan T3 15%. Sedangkan yang 5% adalah hormon-hormon lain seperti T2.
T3 dan T4 membantu sel mengubah oksigen dan kalori menjadi tenaga (ATP = adenosin tri fosfat). T3 bersifat lebih aktif daripada T4. T4 yang tidak aktif itu diubah menjadi T3 oleh enzim 5-deiodinase yang ada di dalam hati dan ginjal. Proses ini juga berlaku di organ-organ lain seperti hipotalamus yang berada di otak tengah.
Hormon-hormon lain yang berkaitan dengan fungsi tiroid ialah TRH (thyroid releasing hormon) dan TSH (thyroid stimulating hormon). Hormon-hormon ini membentuk satu sistem aksis otak (hipotalamus dan pituitari)- kelenjar tiroid. TRH dikeluarkan oleh hipotalamus yang kemudian merangsang kelenjar pituitari mengeluarkan TSH. TSH yang dihasilkan akan merangasang tiroid untuk mengeluarkan T3 dan T4. Oleh kerena itu hal yang mengganggu jalur di atas akan menyebabkan produksi T3 dan T4
Kelenjar tiroid mengatur metabolisme basal dari tubuh (sel tubuh). Letaknya di bagian depan leher dan mempunyai bentuk seperti huruf H. Kelenjar tiroid mempunyai fungsi sebagai berikut.
(1) Metabolisme
Metabolisme berkaitan penggunaan makanan yang diserap oleh tubuh. Bahan makanan akan dibakar menjadi panas dan energi untuk aktivitas.Terlalu aktif atau kurang aktif kelenjar ini akan menyebabkan perubahan fisis dalam berat badan. Tiroid memproduksi tiroksin yaitu hormon yang meningkatkan laju dari aktivitas hampir di seluruh reaksi kimia dalam sel-sel tubuh.
(2) Pertumbuhan dan perkembangan
Tiroid memproduksi hormon yang berpengaruh pada pertumbuhan tulang. Di samping itu, juga mengontrol tingkat kalsium dengan kalsitonin—hormon yang mengatur pergerakan kalsium ke dalam tulang. Kerja tiroid berlawanan dengan kerja dari hormon paratiroid yang bersifat meningkatkan pembongkaran kalsium dari tulang. Efek dari hormon pertumbuhan dari kelenjar pituitari tidak berarti tanpa adanya tiroksin.
(3) Pengeringan kulit
Tiroid juga mengontrol kesehatan kulit. Kurang aktifnya tiroid akan menyebabkan kulit menjadi kering. Lapisan paling luar dari kulit akan menjadi kering, sel-sel mati, dan akan selalu dari lapisan pertumbuhan. Jika laju sel-sel yang diganti abnormal, akan terjadi kekeringan. Defisiensi dan dari fungsi tiroid langsung mengontrol laju ini.
(4) Kolesterol
Tiroid mempunyai pengaruh pada tingkat kolesterol dalam tubuh. Kolesterol adalah bahan seperti lemak yang ditemukan dalam banyak jaringan dan merupakan komponen yang menyebabkan penyumbatan arteri. Jika tingkat kolesterol terlalu tinggi, hal ini dapat menyebabkan arteriosklerosis atau pengerasan arteri.

ü  Penyakit kelenjar tiroid

Antara orang-orang yang berisiko menghadapi masalah penyakit kelenjar tiroid ialah:
  • Perempuan
  • Genetik
  • Mengidapi sakit pituitari atau endokrin yang lain
  • Usia lebih 60 tahun
  • Merokok
Ada dua jenis penyakit tiroid yang utama:
1.      Hipertiroidisme / Tirotoksikosis
Hipertiroidisme adalah terjadinya produksi hormon thyroid yang berlebihan. Hal ini mengakibatkan aktifitas metabolik meningkat, berat badan menurun, gelisah, tremor, diare, frekuensi jantung meningkat dan pada hipertiroidisme berlebihan gejalanya adalah toksisitas hormon. Hipertiroidisme berlebihan dapat menyebabkan goiter eksoftalmik (penyakit Grave). Gejalanya berupa pembengkakan jaringan di bawah kantong mata, sehingga bola mata menonjol.
Dalam kes hyperthyroidism / thyrotoxicosis, hormon tiroid T3 dan T4 didapati lebih tinggi daripada orang biasa. Antara penyebab penyakit ini ialah :
  • Grave's disease. Antibodi di dalam badan menyebabkan tiroid membesar dan mengeluarkan lebih hormon. Selalunya semua (atau sebahagian besar) sel tiroid orang yang menghidapi penyakit ini mengeluarkan hormon berlebihan
  • Thyroiditis (tiroid bengkak). Selalunya keadaan ini boleh elok sendiri
  • Toxic nodule goitre. Terlalu banyak iodin di dalam makanan
Tanda-tanda orang yang menghidapi hipertiroidisme:
  • Bengkak di leher
  • Cirit birit
  • Degupan jantung bertambah, sentiasa berdebar-debar
  • Gementar dan gelisah, terketar-ketar
  • Haid tidak teratur, kurang atau tidak datang
  • Kesuburan turun
  • Penumpuan kurang
  • Mata menjadi besar (bulging)
  • Angin yang tidak menentu
  • Kejang otot
  • Oesteoporosis (kereputan tulang)
  • Pengeluaran peluh banyak, bertambah. Kulit lembap
  • Suhu badan naik, tak tahan panas
  • Rambut tidak kuat
  • Sukar bernafas
  • Sukar tidur
  • Tekanan darah naik
  • Turun berat badan walaupun selera naik
  • Lemah
Hipotiroidisme : Orang yang menghidap hypothyroidism pula tidak mempunyai hormon tiroid yang cukup. Hipotiroidisme adalah penurunan produksi hormon thyroid. Hal ini mengakibatkan penurunan aktifitas metabolik, konstipasi, letargi, reaksi mental melambat dan peningkatan simpanan lemak. Pada orang dewasa, kondisi ini menyebabkan miksedema, yang ditandai dengan adanya akumulasi air dan musin di bawah kulit, sehingga terlihat penampakan edema. Sedangkan pada anak kecil, hipotiroidisme mengakibatkan retardasi mental dan fisik.

2.1.1 Biosintesis
Kelenjar tiroid memproduksi hormone tiroid, yang akan disimpan sebagai reisdu asam amino dari triglobulin. Triglobulin merupakan glikoprotein yang menempati sebagian besar folikel koloid kelenjar tiroid. Secara garis besar, sintesis, penyimpanan, sekresi, dan konversi hormone tiroid terdiri dari beberapa tahap :
(a)   Ambilan (uptake) ion yodida (I’) oleh kelenjar
Yodium dari makanan mencapai sirkulasi dalam bentuk yodida. Pada keadaan normal kadarnya dalam darah sangat rendah ( 0,2 – 0,4 µg/dL ), tetapi kelenjar tiroid mampu menyerap yodida cukup kuat, sehingga yodida dalam kelenjar mencapai 20-50 kali, bahkan bila kelenjar terangsang mencapai 100 kali dari kadar plasma. Mekanisme transport yodida ke kelenjar dihambat beberapa ion, missal tiosianat dam perklorat. System transport yodida ini dipicu hormone tirotropin dari adenohipofisis ( hyroid-stimulating hormone , TSH ), yang diatur oleh mekanisme autoregulasi. Karenanya bila simpanan yodium di kelenjar rendah ambilan yodida akan dipicu dan sebaliknya pemberian yodida akan menekan mekanisme di atas.
(b)   Mekanisme yang sama dijumpai pula pada alat lain misalnya kelenjar ludah, mukosa lambung, kulit kelenjar mamae, dan plasenta yang dapat mempertahankan kadar yodida 10-50 kali lebih tinggi dari dalam darah
(c)    Oksidasi yodida dan yodinasi gugus tirosil pada triglobulin
Oksidasi yodinasi menjadi bentuk aktifnya perantarai tiroid peroksidase, enzim yang mengandung heme, dan menggunakan H2O2 sebagai oksidan. Enzim ini berada di membran sel dan terkonsentrasi di permukaan paling atas dari kelenjar. Reaksi ini menghasilkan residu monoyodotirosil (MT) dan diyodotirosil (DIT) dalam triglobulin, tepat sebelum penyimpanan ekstraselularnya di lumen folikel kelenjar. Reaksi tersebut dirangsang TSH.
(d)   Penggabungan residu yodotirosin, antara lain menghasilkan yodotironin
Tahap berikutnya, pembentukan triyodotironin dari residu monoyodotirosil dan diyodotirosil. Reaksi oksidasi ini juga dikkatalisasi oleh ensim tiroid peroksidase. Kecepatan pembentukan tirosin dipengaruhi kadar TSH dan tersedianya yodida. Telah diketahui bahwa terdapat hubungan antara jumlah tiroksin dan triyodotironin yang terbentuk di dalam kelenjar dan tersedianya jumlah yodida atau kedua yodotirosin; missal pada tikus, bila terjadi defisiensi yodium pada kelenjartiroid, rasio tiroksin/triyodotironin akan menurun dari 4:1 menjadi 1:3. Karena T3 merupakan bentuk transkripsi aktif yodotironin dan hanya mengandung sekitar tiga per empat bagian yodium yang tersedia hanya sedikit berpengaruh terhadap jumlah hormone tiroid yang keluar dari kelenjar.
(e)    Resorpsi koloid troglobulin dari lumen ke dalam sel
(f)    Proteolisis triglobulin dan pengeluaran atau sekresi tiroksin (T4) dan triyodotironin (T3) ke aliran darah
(e) Resorpsi; (e) proteolisis  koloid ; dan (f) sekresi hormone tiroid. Karena T3 dan T4 disintesis dan disimpan sebagai bagian dari trglobulin, maka untuk sekresinya diperlukan proses proteolisis. Proses ini dimulai dari endositosis koloid dari lumen folikel pada permukaan sel, dengan bantuan resptor triglobulin, yakni megalin. Triglobulin harus dipecah dahulu menjadi beberapa asam amino agar hormone tiroid dapat dilepaskan, proses ini dibantu oleh TSH. Pada saat triglobulin terhidrolisis, monoyodotirosin dan diyodotirosin juga dilepaskan tetapi tetap berada dalam kelenjar; sedangkan yodium yuang dilepaskan sebagai yodida akan tergabung lagi denghan protein. Molekul triglobulin dibentuk oleh 300 residu karbohidrat dan 5500bresidu asam amino dan hanya 2-5 di antaranya adalah T4; dengan demikian untuk melepaskan hormone tiroid, molekul triglobulin harus dipecah menjadi gugus-gugus asam amino. Mekanisme ini dipicu oleh hormone tirotropin.
(g)   Recycling yodium di antara sel-sel tiroid melalui deyodinasi dari mono- dan diyodotirosin dan penggunaan kembali ion yodida (I’)
(h)   Konversi (T4) menjadi (T3) di jaringan perifer dan dalam kelenjar tiroid
Konversi tiroksin menjadi triyodotironin di jaringan perifer. Pada keadaan normal produksi tirosin (T4) sehari antara 70-90 µg, sedangkan triyodotironin (T3) 15-30  µg. meski T3 diproduksi kelenjar tiroid, sekitar 80% T3 di sirkulasi adala hasil metabolism T4 yang terjadi melalui sekuensial monodeyodinaso di jaringan perifer. Sebgaian besar konversi T4 menjadi T3 di luar kelenjar, yakni di dalam hati. Kerenanya bila tiroksin diberikan pada pasien hipotiroid dengan dosis yamg dapat menormalkan tiroksin plasma, kadar T3 plasma juga akan mencapai normal. Hampir semua jaringan perifer menggunakan T3 yang berasal dari hormone tiroid yang disirkulasi, kecuali otak dan adenohipofisis. Pada keadaan normal sekitar 41% T4 akan dikonversi menjadi T3, kira-kira 38% menjadi rT3 (reverse T3) yang tidak aktif dan 21% dimetabolisme melalui jalur lain, antara lain melalu konjugasi d hati dan dieksresi melalui empedu. Kadar T4 plasma yang normal berkisar antara 4,5 sampai 11 µg/dL, sedangkan T3 hanya sekitar sperseratusnya (60-180 µg/dL).
Konversi di atas dikatalisasi oleh enzim yodotironin  5’-deyodinase, dengan 3 tipe isozim. Isozim tipe I 5’-deyodinase (D1) ditemukan di hati. Ginjal, dan di kelenjar dan berperan pada pembentukan T3 yang berada pada sirkulasi, dan digunakan oleh hamper semua jaringan. Isozim D1 ini dapat dihambat oleh banyak hal, antara lain keadaan malnutrisi, glukokortikoid, penghambat reseptor-β ( missal: propranolol dosis tinggi ), obat antitiroid propiltiorasil, asam lemak dan amiodaron.

2.2 Hormon Tiroid
2.2.1 Transport dan Metabolisme Hormon Thyroid
Hormon thyroid yang bersirkulasi dalam plasma terikat pada protein plasma, yaitu: globulin pengikat tiroksin (thyroxine-binding globulin, TBG), prealbumin pengikat tiroksin (thyroxine-binding prealbumin, TBPA) dan albumin pengikat tiroksin (thyroxine-binding albumin, TBA). Kebanyakan hormon dalam sirkulasi terikat pada protein-protein tersebut dan hanya sebagian kecil saja (kurang dari 0,05 %) berada dalam bentuk bebas.
Hormon yang terikat dan yang bebas berada dalam keseimbangan yang reversibel. Hormon yang bebas merupakan fraksi yang aktif secara metabolik, sedangkan fraksi yang lebih banyak dan terikat pada protein tidak dapat mencapai jaringan sasaran.
Dari ketiga protein pengikat tiroksin, TBG merupakan protein pengikat yang paling spesifik. Selain itu, tiroksin mempunyai afinitas yang lebih besar terhadap protein pengikat ini dibandingkan dengan triiodotironin. Akibatnya triiodotironin lebih mudah berpindah ke jaringan sasaran. Faktor ini yang merupakan alasan mengapa aktifitas metabolik triiodotironin lebih besar.
Perubahan konsentrasi TBG dapat menyebabkan perubahan kadar tiroksin total dalam sirkulasi. Peningkatan TBG, seperti pada kehamilan, pemakaian pil kontrasepsi, hepatitis, sirosis primer kandung empedu dan karsinoma hepatoselular dapat mengakibatkan peningkatan kadar tiroksin yang terikat pada protein. Sebaliknya, penurunan TBG, misalnya pada sindrom nefrotik, pemberian glukokortikoid dosis tinggi, androgen dan steroid anabolik dapat menyebabkan penurunan kadar tiroksin yang terikat pada protein.
Hormon-hormon thyroid diubah secara kimia sebelum diekskresi. Perubahan yang penting adalah deiodinasi yang bertanggung jawab atas ekskresi 70 % hormon yang disekresi. 30 % lainnya hilang dalam feses melalui ekskresi empedu sebagai glukuronida atau persenyawaan sulfat. Akibat deiodinasi, 80 % T4 dapat diubah menjadi 3,5,3’-triiodotironin, sedangkan 20 % sisanya diubah menjadi reverse 3,3’,5’-triiodotironin (rT3) yang merupakan hormon metabolik yang tidak aktif.
Pada keadaan normal, yodium disirkulasi terdapat dalam berbagai bentuk, sekitar 95% sebagai yodium organic dan hamper 5% sebagai yodida. Sebagian besar ( 90%-95%) yodium organic berada dalam bentuk tiroksin, dan hanya sebagian kecil (5%) berada di triyodotironin.
Dalam darah hormone tiroid terikat kuat pada berbagai protein plasma, dalam bentuk ikatan non kovalen. Sebagian besar hormone ini terikat pada thyroxine-binding globulin (TBG), T3 ikatannya sangat lemah dan mudah terlepas kembali, karenanya T3 mula kerjanya lebih cepat dari T4, tiroksin juga terikat transtiretin (thyroxine-binding prealbulmin), suatu retinol-binding protein, yang kadarnya lebiuh tinggi dari TBG dan terutama mengikat tiroksin. Adanya ikatan hormone tiroid dengan protein plasma, menyebabkan tidak mudahnya hormone ini di metabolism dan dieksresi, sehingga masa paruhnya cukup panjang.
Hanya sedikit tiroksin yang terikat albumin dan hampir tidak mempunyai peran fisiologik, kecuali pada famial dysalbuminemic hyperthyroxinemia. Sindroma ini merupakan kelainan autosomal yang dominan, ditandai dengan meningkatnya afinitas albumin terhadap tiroksin akibat terjadinya mutasi gen albumin.
Besarnya aktivitas biologic hormone tiroid ditentukan oleh jumlah hormone tiroid bebas dalam plasma. Jumlah ini antara lain tyergantung dari jumlah TBG plasma. Selain jumlah hormone tiroid bebas di plasma dalam batas normal, tidak akan timbul gejala hipofungsi atau hiperfungsi tiroid.
Ikatan hormone tiroid dengan protein plasma dalam memproteksi hormone ini dari proses metabolism dan eksresi, sehingga masa-paruhnya dalam sirkulasi panjang. Hanya sekitar 0,03% tiroksin dan 0,3% triyodotironin dari total hormon tersebut berada dalama keadaan bebas.
Aktivitas metabolic hormone tiroid hanya dapat dilakukan  oleh hormone yang bebas. Karena afinitas pengikatannya dengan protein plasma tinggi, maka adanya perubahan kadar protein plasma atau afinitas ikatannya, akan mempengaruhi kadar total hormone dalam serum. Beberapa obat dan berbagai kondisi oatologik dan fisilogik, misalnya peningkatan kadar estrogen plasma pada kehamilan atau terapi dengan estrogen atau penggunaan kontrasepsi hormonal oral, dapat meningkatkan peningkatan tiroid dengan protein plasma dan kadar proteinnya. Karena adenohipofisis hanya diengaruhi dan meregulasi hormone tiroid yang bebas, maka keadaan di atas hanya sedikit mempengaruhi perubahan kadar hormone bebas dalam sirkulasi. Karenanya tes laboratorium yang hanya mengukur kadar hormone total secara keseluruhan dapat menyesatkan diagnosis.Tabel di bawah, memperlihatkan berbagai factor yang dapat mempengaruhi pengikatan hormone tiroid dengan TBG.

FAKTOR-FAKTOR YANG DAPAT MEMPENGARUHI PENGIKATAN HORMONE TIROID DENGAN TBG

Meningkatkan ikatan
Menurunkan ikatan
Jenis obat
·         Estrogen
·         Metadon
·         Klofibrat
·         5-flourourasil
·         Heroin
·         Tamoksifen
·         Selective estrogen
Receptor modulators

Glukokortiroid
Androgen
L-Asparaginase
Salisilat
Asam mefenamat
Antiepilepsi ( fenition, karbamazepin )
furozemid
Factor sistemik
·         Penyakit hati
·         Porfiria
·         Infeksi HIV
·         Penyakit kongenital

Penyakit congenital
Penyakit akut dan kronik
( Di adaptasi dari Farwell A, Braverman LE, 2006)2

2.2.2 Mekanisme Kerja Hormon Thyroid
Mekanisme kerja hormon thyroid ada yang bersifat genomik melalui pengaturan ekspresi gen, dan non genomik melalui efek langsung pada sitosol sel, membran dan mitokondria.
Mekanisme kerja yang bersifat genomik dapat dijelaskan sebagai berikut, hormon thyroid yang tidak terikat melewati membran sel, kemudian masuk ke dalam inti sel dan berikatan dengan reseptor thyroid (TR). T3 dan T4 masing-masing berikatan dengan reseptor tersebut, tetapi ikatannya tidak sama erat. T3 terikat lebih erat daripada T4. Kompleks hormon-reseptor kemudian berikatan dengan DNA melalui jari-jari “zinc” dan meningkatkan atau pada beberapa keadaan menurunkan ekspresi berbagai gen yang mengkode enzim yang mengatur fungsi sel.
Ada dua gen TR manusia, yaitu gen reseptor α pada kromosom 17 dan gen reseptor β pada kromosom 3. Dengan ikatan alternatif, setiap gen membentuk paling tidak dua mRNA yang berbeda, sehingga akan terbentuk dua protein reseptor yang berbeda. TRβ2 hanya ditemukan di otak, sedangkan TRα1, TRα2 dan TRβ1 tersebar secara luas. TRα2 berbeda dari ketiga reseptor yang lain, yaitu tidak mengikat T3 dan fungsinya belum diketahui. Reseptor thyroid (TR) berikatan dengan DNA sebagai monomer, homodimer dan heterodimer bersama dengan reseptor inti yang lain.
Dalam hampir semua kerjanya, T3 bekerja lebih cepat dan 3-5 kali lebih kuat daripada T4. Hal ini disebabkan karena ikatan T3 dengan protein plasma kurang erat, tetapi terikat lebih erat pada reseptor hormon thyroid..
2.2.3 Efek Hormon Thyroid
Secara umum efek hormon thyroid adalah meningkatkan aktifitas metabolisme pada hampir semua jaringan dan organ tubuh, karena perangsangan konsumsi oksigen semua sel-sel tubuh. Kecepatan tumbuh pada anak-anak meningkat, aktifitas beberapa kelenjar endokrin terangsang dan aktifitas mental lebih cepat.
-          Efek Hormon Thyroid pada Otak
Hormon ini mempunyai peranan yang sangat penting pada pertumbuhan otak. Bila karena sesuatu sebab tiroid tidak ada pada masa neoregenesis yang aktif (usia 0 sampai 6 bulan pascapersalinan), dapat terjadi  retardasi mental yang ireversibel (kretinisme) dan akan di ikuti oleh gangguang morfologik multiple pada otak. Pemberian hormon tiroid dalam masa 2 minggu pasca persalinan pada pasien ini, dapat mencegah perkembangannya gangguangmorfologi tersebut.
-           Efek Kalorigenik Hormon thyroid
T4 dan T3 meningkatkatkan konsumsi O2 hampir pada semua jaringan yang metabolismenya aktif, kecuali pada jaringan otak orang dewasa, testis, uterus, kelenjar limfe, limpa dan hipofisis anterior. Yang berkaitan erat dengan efek metabolic keseluruhan dari hormone tiroid adalah efek kalorigenik (penghasil panas). Peningkatan laju metabolism menyebabkan peningkatan produksi panas.
Beberapa efek kalorigenik hormon thyroid disebabkan oleh metabolisme asam lemak yang dimobilisasi oleh hormon ini. Di samping itu hormon thyroid meningkatkan aktivitas Na+-K+ATPase yang terikat pada membran di banyak jaringan. Bila pada orang dewasa taraf metabolisme ditingkatkan oleh T4 dan T3, maka akan terjadi peningkatan ekskresi nitrogen. Bila masukan makanan tidak ditingkatkan pada kondisi tersebut, maka protein endogen dan simpanan lemak akan diuraikan yang berakibat pada penurunan berat badan.
-             Efek Hormon Thyroid pada Sistem Saraf
Hormon thyroid memiliki efek yang kuat pada perkembangan otak. Bagian SSP yang paling dipengaruhi adalah korteks serebri dan ganglia basalis. Di samping itu, kokhlea juga dipengaruhi. Akibatnya, defisiensi hormon thyroid yang terjadi selama masa perkembangan akan menyebabkan retardasi mental, kekakuan motorik dan ketulian. Hormon thyroid juga menimbulkan efek pada refleks. Waktu reaksi refleks regang menjadi lebih singkat pada hipertiroidisme dan memanjang pada hipotiroidisme. Pada hipertiroidisme, terjadi tremor halus pada otot. Tremor tersebut mungkin disebabkan karena peningkatan aktivitas pada daerah-daerah medula spinalis yang mengatur tonus otot.
-          Efek Hormon Thyroid pada Kardiovaskuler
Hormon thyroid memberikan efek multipel pada jantung. Sebagian disebabkan karena kerja langsung T3 pada miosit, dan sebagian melalui interaksi dengan katekolamin dan sistem saraf simpatis. Hormon thyroid meningkatkan jumlah dan afinitas reseptor β-adrenergik pada jantung, sehingga meningkatkan kepekaannya terhadap efek inotropik dan kronotropik katekolamin.
Hormon-hormon ini juga mempengaruhi jenis miosin yang ditemukan pada otot jantung. Pada pengobatan dengan hormon thyroid, terjadi peningkatan kadar myosin heavy chain-α (MHC-α), sehingga meningkatkan kecepatan kontraksi otot jantung.
Melalui efeknya pada ketanggapan jantung terhadap katekolamin dalam darah, hormon tiroid meningkatkan kecepatan denyut dan kekuatan kontraksi jantung, sehingga curah jantung meningkat. Selain itu, sebagai respons terhadap beban panas yang ditimbulkan oleh efek kalorigenik hormon tiroid, terjadi vasodilatasi perifer untuk menyalurkan kelebihan panas tersebut ke permukaan tubuh untuk dieleminasi ke lingkungan.
-          Efek Hormon Thyroid pada Otot Rangka
Pada sebagian besar penderita hipertiroidisme terjadi kelemahan otot (miopati tirotoksisitas). Kelemahan otot mungkin disebabkan oleh peningkatan katabolisme protein. Hormon thyroid mempengaruhi ekspresi gen-gen myosin heavy chain (MHC) baik di otot rangka maupun otot jantung. Namun , efek yang ditimbulkan bersifat kompleks dan kaitannya dengan miopati masih belum jelas.
-          Efek Hormon Thyroid dalam Sintesis Protein
Peranan hormon thyroid dalam peningkatan sintesis protein dapat dijelaskan sebagai berikut: (1) Hormon thyroid memasuki inti sel, kemudian berikatan dengan reseptor hormon thyroid. (2) Kompleks hormon-reseptor kemudian berikatan dengan DNA dan meningkatkan transkripsi mRNA serta sintesis protein.
-          Efek Hormon Thyroid pada Metabolisme Karbohidrat
Hormon thyroid merangsang hampir semua aspek metabolisme karbohidrat, termasuk ambilan glukosa yang cepat oleh sel-sel, meningkatkan glikolisis, meningkatkan glukoneogenesis, meningkatkan kecepatan absorbsi dari traktus gastrointestinalis dan juga meningkatkan sekresi insulin dengan efek sekunder yang dihasilkan atas metabolisme karbohidrat.
-          Efek Hormon Thyroid pada Metabolisme Kolesterol
Hormon thyroid menurunkan kadar kolesterol dalam darah. Kadar kolesterol plasma turun sebelum kecepatan metabolisme meningkat, yang menunjukkan bahwa efek ini tidak bergantung pada stimulasi konsumsi O2. Penurunan konsentrasi kolesterol plasma disebabkan oleh peningkatan pembentukan reseptor LDL di hati, yang menyebabkan peningkatan penyingkiran kolesterol oleh hati dari sirkulasi.
-          Efek Hormon Thyroid pada Pertumbuhan
Hormon thyroid penting untuk pertumbuhan dan pematangan tulang yang normal. Pada anak dengan hipotiroid, pertumbuhan tulang melambat dan penutupan epifisis tertunda. Tanpa adanya hormon thyroid, sekresi hormon pertumbuhan juga terhambat, dan hormon thyroid memperkuat efek hormon pertumbuhan pada jaringan.
Hormon tiroid penting untuk pertumbuhan yang normal. Efek hormone tiroid dalam mendorong pertumbuhan merupakan efek sekunder dari efeknya terhadap hormone pertumbuhan. Hormon tiroid tidak saja merangsang sekresi hormon pertumbuhan (somatomedin) pada sintesis protein structural baru dan pada pertumbuhan rangka. Anak yang mengalami defisiensi tiroid mengalami gangguan pertumbuhan, yang reversible jika anak tersebut diberi hormone tiroid pengganti. Namun, tidak seperti kelebihan hormone pertumbuhan, kelebihan hormone tiroid tidak akan menyebabkan pertumbuhan berlebihan.
-          Efek pada Laju Metabolisme
Hormon tiroid meningkatkan laju metabolic basal tubuh keseluruhan atau “kecepatan langsam”. Hormon ini adalah regulator terpenting bagi tingkat konsumsi O2 dan pengeluaran energi tubuh pada keadaan istirahat. Dibandingkan dengan hormon-hormon lain, efek hormone tiroid bersifat “lamban”. Setelah tertunda beberapa jam barulah respons metabolic terhadap hormone tiroid dapat dideteksi, dan respons maksimum belum terjadi sampai beberapa hari. Durasi respons juga cukup panjang, sebagian karena hormone tiroid tidak cepat mengalami penguraian, tetapi juga karena respons terus berlangsung selama beberapa hari atau bahkan minggu setelah konsentrasi hormone tiroid plasma kembali normal.
-          Efek pada metabolisme perantara
Selain meningkatkan laju metabolisme basal, hormone tiroid memodulasi kecepatan banyak reaksi spesifik yang terlibat dalam metabolisme bahan baker. Efek hormone tiroid pada bahan baker metabolic bersifat multifaset. Hormon ini tidak saja dapat mempengaruhi sintesis dan penguraian karbohidrat, lemak dan protein, tetapi banyak sedikitnya jumlah hormone juga dapat menginduksi efek yang bertentangan. Sebagai contoh, perubahan glukosa menjadi glikogen, bentuk simpanan glukosa, dipermudah oleh keberadaan hormone tiroid dalam jumlah kecil, tetapi sebaliknya, penguraian glikogen menjadi glukosa, terjadi apabila hormone tiroid dalam jumlah besar. Demikian juga, sejumlah hormone tiroid diperlukan untuk sintesis protein yang diperlukan untuk pertumbuhan tubuh, namun hormone tiroid dalam konsentrasi tinggi dapat menyebabkan penguraian protein. Secara umum, kadar hormone dalam plasma yang berlebihan, misalnya pada hipersekresi tiroid, akan lebih meningkatkan efek peningkatan konsumsi bahan baker dibandingkan efek penyimpanan bahan baker, seperti termanifestasi dalam penguraian glikogen, penurunan simpanan lemak, dan penciutan otot akibat penguraian protein (komponen struktural utama sel adalah protein. Sel-sel otot sangat banyak mengandung protein struktural sebab berisi unsur-unsur kontraktil yang terbuat dari protein, filament aktin dan miosin)
-          Efek Simpatomimetik
Setiap efek yang serupa dengan yang dihasilkan oleh sistem saraf simpatis disebut sebagai efek simpatomimetik (mirip simpatis). Hormon tiroid meningkatkan ketanggapan sel sasaran terhadap katekolamin (epinefrin dan norepinefrin), zat perantara kimiawi yang digunakan oleh sistem saraf simpatis dan hormon dari medulla adrenal. Hormon tiroid diperkirakan menimbulkan efek permisif ini dengan menyebabkan proliferasi reseptor spesifik katekolamin di sel sasaran. Karena itu, banyak efek yang dijumpai pada saat sekresi hormon tiroid meningkat serupa dengan efek yang menyertai peningkatan aktivitas simpatis.

2.2.4 Biotransformasi dan Eksresi
Tiroksin lambat sekali dieliminasi dari tubuh, dengan masa-paruh 6-8 hari. Pada hipertiroidisme masa-paruhnya memendek 3-4 hari dan pada hipotiroidisme memanjang 9-10 hari. Perubahan ini dapat menggambarkan adanya perubahan dalam kecepatan metabolismenya. Bila pengikatnya engan TBG mengikat, misalnya pada kehamilan, klirensnya akan terganggu. Peningkatan asam sialat dalam TBG yang terbentuk, dan menyebabkan klirensnya menurun. Keadaan sebaliknya akan terjadi bila ikatannya dengan protein menurun atau bila terjadi hambatan pengikatan oleh beberapa obat seperti tertera pada Tabel. T3 yang ikatannya dengan protein tidak terlalu kuat, masa paruhnya hanya sekitar 1 jam.
Degradasi non-deyodinasi hormone tiroid sebagian besar terjadi di hati; T4 dan T3 akan terkonjugasi dengan asam glukoronat dan sulfat, dan akan dieksresi melalui empedu. Sebagian dari hormone yang telah terkonjugasi ini akan dihidrolisis di usus halus, dan tiroid yang bebas ini akan direabsorpsi. Bentuk terkonjugasi yang lain akan sampai di kolon, yang kemudian akan dihidrolisis dan dieliminasi melalui feses dalam bentuk bebas.
Seperti diuraikan di atas, sebagian besar T4 mengalami deyodinasi menjadi T3 atau rT3. Triyodotironin dan rT3 mengalami deyodinasi menjadi 3 diyodotironin yang berbeda, yang akan mengalami deyodotironin yang berbeda, yang akan mengalami deyodinasi lebih lanjut menjadi 2 monoyodotironin, yang merupakan metabolit inaktif dan pada keadaan normal berada di plasma.
Fungsi thyroid diatur terutama oleh kadar TSH hipofisis dalam darah. Efek spesifik TSHpada kelenjar thyroid adalah:
·         Meningkatkan proteolisis tiroglobulin dalam folikel
·         Meningkatkan aktifitas pompa iodide
·         Meningkatkan iodinasi tirosin
·         Meningkatkan ukuran dan aktifitas sel-sel thyroid
·         Meningkatkan jumlah sel-sel thyroid.
Sekresi TSH meningkat oleh hormon hipotalamus, thyrotropin releasing hormone (TRH) yang disekresi oleh ujung-ujung saraf pada eminensia media hipotalamus. TRH mempunyai efek langsung pada sel kelenjar hipofisis anterior untuk meningkatkan pengeluaran TRHnya.2, 14
Salah satu rangsang yang paling dikenal untuk meningkatkan kecepatan sekresi TSH oleh hipofisis anterior adalah pemaparan dengan hawa dingin. Berbagai reaksi emosi juga dapat mempengaruhi pengeluaran TRH dan TSH sehingga secara tidak langsung dapat mempengaruhi sekresi hormon thyroid.
Peningkatan hormon thyroid dalam cairan tubuh akan menurunkan sekresi TSH oleh hipofisis anterior. Bila kecepatan sekresi hormon thyroid meningkat sekitar 1,75 kali dari normal, maka kecepatan sekresi TSH akan turun sampai nol. Penekanan sekresi TSH akibat peningkatan sekresi hormon thyroid terjadi melalui dua jalan, yaitu efek langsung pada hipofisis anterior sendiri dan efek yang lebih lemah yang bekerja melalui hipotalamus.
Abnormalitas sekresi terjadi akibat defisiensi iodium, malfungsi hipotalamus, hipofisis atau kelenjatr thyroid.
2.2.5 Regulasi Fungsi Tiroid
Pada pasien dengan goiter endemik atau pasca-tiroidektomi, sel-sel adenohipofisis akan mengalami perubahan. Juga telah diketahui bahwa ablasio atau penyakit pada adenohipofisis dapat menimbulkan hipoplasia kelenjar tiroid. Sel-sel tirotrop dari adenohipofisis mensekresi tirotropin atau TSH, yang merupakan hormone glikoprotein dengan subunit α dan β, dan hormone ini analog dengan LH dan FSH.
TSH disekresikan secara pulsatif dan bersifat sirkadian, kadarnya dalam sirkulasi paling tinggi pada saat tidur malam hari. Sekresinya di bawah pengaruh thyrotropin-releasing hormone (TRH) dari hipotalamus dan kadar hormone tiroid yang bebas dalam sirkulasi. Bila kecepatan sekresi hormone tirod dari kelenjar tiroid menurun, agar terjadi peningkatan sekresi TSH agar dapat merangsang kelenjar tiroid untuk mensekresikan lebih banyak hormone tiroid. Mekanisme lain, efek hormone tiroid pada TSH ialah terjadinya penurunan sekresi TRH dari hipotalamus dan berkurangnya jumlah reseptor TRH di sel-sel adenohipofisis.
2.2.6 Hormon Pemicu Tirotropin (Thyrotropin-Releasing Hormon = TRH).
TRH disintesis di hipotalamus, dan disekresi ke sirkulasi portal di hipotalamo-hipofisis, kemudian bekerja pada reseptor tirotropin.  Rangsangan reseptor ini menyebabkansekresi TSH dari granul sekretorisnya dan juga merangsang sintesis  subunit α dan β dari TSH. Stimulasi TSH dan TRH dapat dihambat oleh somatotropin, dopamine dan glukokortikoid.
TRH juga ditemukan di korteks serebri, neuro hipofisis, kelenjar pineal dan medulla spinalis. Adanya TRH di luar hipotalamus ini menimbulkan dugaan bahwa TRH di sini mungkin bekerja sebagai neurotransmitter atau neuromodulator. Pemberian TRH pada hewan coba dapat mempengaruhi perilaku, termoregulasi,tonus autonom dan fungsi kardiovaskuler , antara lain peningkatan tekanan darah dan denyut jantung. Meski TRH juga telah dapat di identifikasi di pulau langerhans, jantung, testis, dan sebagian saluran cerna, tetapi belum diketahui efek fisiologisnya pada organ tersebut.
2.2.7 Efek Tsh Pada Kelenjar Tiroid
TSH dapat merangsang semua fase biosintesis dan proses sekresi hormone tiroid, mulai dari uptake yodida dan organifikasinya sintesis hormone tiroid, endositosis dan akhirnya proteolisis koloid. Vaskularisasi kelenjar akan meningkat , dan akan terjadi hipertrofi dan hyperplasia dari sel-sel kelenjar.
Semua efek di atas akan di dahului oleh terikatnya TSH pada reseptornya di plasma membrane sel-sel kelenjar.  Struktur reseptor TSH identik dengan reseptor LH dan FSH. Mutan multiple reseptor  TSH dapat menimbulkan gejala klinik disfungsi tiroid, sedangkan mutasi germile pada reseptor ini pada masa kehamilan dapat menyebabkan hipertiroidisme karena reseptor menjadi sangat  sensitive terhadap HCG. Mutasi somatic menyebabkan aktivasi reseptor dan ini terjadi pada hiperfungsi adenoma tiroid. Dapat pula terjadi resistensi reseptor pada beberapa keluarga dengan mutan reseptor TSH ataupun pada keadaan dimana nampaknya tidak ada mutan reseptor TSH atau pada TSH-nya sendiri.

2.2.8 Hubungan Yodium dan Fungsi Tiroid
Untuk pembentukan hormone tiroid yang normal, tubuh membutuhkan jumlah yodium yang cukup. Bila yodium kurang hormone ini tidak dapat diproduksi dalam jumlah cukup, sedangkan TSH terus disekresikan sehingga kelenjar tiroid mengalami hyperplasia dan hipertrofi. Kelenjar yang membesar dan terus terangsang ini dapat mengekstraksi residu yodida yang masih berada di sirkulasi. Pada defisiensi yodium yang ringan sampai sedang, umumnya kelenjar tiroid dapat memproduksi hormone dalam jumlah cukup, terutama T3. Tetapi bila defisiensi tersebut tergolng berat , akan terjadi hipotiroidisme (pada orang dewasa) dan mungkin akan timbul kretinisme.
Pada beberapa daerah di dunia, simple goiter atau goiter nontosik banyak di jumpai akibat defisiensi yodium. Yodium yang dibutuhkan orang orang dewasa sekitar 1-2 µg/kgBB/hari. Di Amerika Serikat kebutuhan harian yodium untuk anak-anak adalah 40-120 µg, dewasa 150 µg, untuk wanita hamil 220 µg dan wanita menyusui 270 µg. makanan yang banyak mengandung yodium adalah makanan yang berasal dari laut, sedangkan sayuran dan daging sedikit mengandung yodium.
Cara paling praktis untuk memenuhi kebutuhan yodium, terutama untuk mereka yang bertempat tinggal di pegunungan yang jauh dari laut, adalah dengan menambahkan yodida pada garam dapur, yang sehari-harinya digunakan di meja makan.

2.2.9 Gangguan Fungsi
Hipofungsi tiroid. Hipotiroidisme, bila hebat di sebut misedema, merupan penyakit gangguan tiroid yang paling umum. Hampir diseluruh dunia, hal ini disebabkan karena defisiensi yodium; pada daerah non-endemik dimana yodium cukup tersedia,umumnya sebabkan karena tiroiditis autoimun  yang kronik (tiroiditis hashimoto). Penyakit ini ditandai oleh tingginya anti bodyterhadap peroksidase tiroid di sirkulasi, danmungkin juga dengan kadar tiroglobulinyang tinggi meski ini lebih jarang terjadi. Dapat juga terjadi hambatan antibody terhadap reseptor TSH, terjadi eksaserbasi hipotiroidisme.
Kegagalan kelenjar tiroid untuk memproduksi hormom tiroid yang cukup merupakan penyebab yang paling umum dari hipotiroidisme dan ini sebut sebagai hipotiroidisme primer.  Hipotiroidisme sentral (central hypothyrodisme) yang lebih jarang terjadi, disebabkan karena efek stimulasi dari TSH yang kurang, akibat gangguan pada adenohipofisis (hipotiroidisme sekunder) atau akibat gangguan hipotalamus (hipotiroidisme tersier). Hipotiroidisme congenital yang terjadi saat bayi baru lahir, dan timbulnya retardasi mental paling mungkin dicegah. Diagnose dan terapi dini dengan hormone tiroid dapat mencegah terjadinya kretinisme.
Hipotiroidisme non-goiter umumnya berhubungan dengan degenerasi dan atrofi kelenjar atau terjadi setelah operasi tiroid atau destruksi akibat yodium radioaktif. Karena jenis hipotiroidisme ini dapat terjadi sesudah penggunaan obat antitiroid pada pasiendengan penyakit Grave, ada pendapat bahwa keadaan ini dapat merupakan fase akhir (end state) dari penyakit Grave (burnt-out Grave’s disease).
Hipotiroidisme dengan goiter terjadi pada tiroiditis Hashimoto, atau bila ada gangguan sintesis hormone tiroid yang hebat. Bila penyakit ini b3ersifat ringan, gejala tidak nyata, sementara progresivitas penyakit dapat berjalan terus akibatnya gejala yang timbul berlebihan. Gambaran klinis pada pasien sanagt spesifik, a.l. muka tampak sangat ekspresif, membengkak, pucat; kulit dingin  dan kering;  kulit kepala bersisik, rambut kasar dan kering dan mudah lepas; kuku jari menebal dan rapuh, mungkin timbul edema; suara parau dengan nada rendah, bicaranya lambat, gangguan daya piker, dan mungkin mengalami depresi; terjadi  gejala gangguan saluran cerna, nafsu makan kurang, motilitas usus berkurang hingga sering terjadi distensi abdominal dan konstipasi. Tonus otot kandung kemih juga berkurang sehingga mudah terjadi retensi urin. Pada pasien wanita dapat timbul gangguan haid.
Hiperfungsi tiroid. Tirotoksikosis adalah keadaan yang disebabkan oeh berbagai hal. Hepertiroidisme dalah keadaan dimana produkso dan sekresi hormone tiroid meningkat akibat hiperfungsi kelenjar tiroid. Pada keadaan ini uptake  yodium oleh kelenjar meningkat, ini dibuktikan dengan tes uptake yodium radioaktif (123I atau 131I; radioactive iodine uptake= RAIU) selama 24 jam. Sebaliknya pada randang atau deskruksi kelenjar tiroid, RAIU 24 jam rendah. Yang disebut sebagai subclinical hyperthyroidisme adalah apabila adanya beberapa gejala hipotiroidisme dengan kadar T3 dan T4 yang normal.
Penyakit grave atau toxic diffuse goiter, merupakan penyebab paling sring dari tirotoksikosis dengan RAIU yang tinggi. Penyakit ini paling imum terjadi pada usia antara 20-50 tahun. Kelainan ini merupakan penyakit autoimun yang ditandai dengan hipotiroidisme, goiter yang bersifat difus, dan adanya antibody IgG yang mengikat dan mengaktifkan reseptor TSH. Pada daerah defisiensi yoidium (daerah endemic), penyakit ini jarang terjadi. Penyakit grave akan disertai gejala mata,eksoftalmus, akibat reaksi inflamsi autoimun yang mengenal daerah jaringan periorbital dan otot-otot ekstraokular.
Pada destruksi kelenjar tiroid dan tirotoksikosis akibat penggunaan hormone tiroid eksogen akan didapati kadar RAIU yang rendah. Tirotoksikosis dengan RAIU rendah akibat tiroiditis subakut disertai rasa sakit dan tiroiditis subakit disertai rasa sakit dan tiroiditis tanpa rasa sakit (silent) terjadi sekitar 5% sampai 20% dari seluruh kasus. Di amrika serikat, 7% sampai 10% silent thyroiditis terjadi pada wanita pascapersalinan. Hampir semua keluhan dan gejala tirotoksikosis terjadi karena pembentukan panas yang berlebihan, peningkatan aktivitas motorik danaktivitas saraf simpatis. Kulit kemerahan, panas, lembab; otot lemah dan terlihat tremor; frekuensi denyut nadi dan jantung cepat. Semua ini menyebabkan nafsu makan bertambah, dan bila kebutuhan ini tidak dipenuhi maka berat badan akan menurun.  Mingkin pasien mengeluh sukar tidur, cemas, dan gelisah, tidak tahan hawa panas dan perstaltik usus meningkat. Tirotoksikosis yang tidak gterdiagnosis setelah berlangsung lama atau terapinya  tidak maksimal, dapat mengalami miopati, atau osteoporosis akibat peningkatan bone-turnover.    
Tes fungsi teroid. Dengan radioimmunoassay, chemilluminescaent, dan enzyme-linked immunoassay, sekarang dapat dilakukan pengukuran kadar T4, T3 dan TSH darah, dan diagnosis laboratorium gangguan fungsi tiroid menjadi lebih baik. Tetapi pengukuran kadar total hormone di plasma tidak dapat menggambarkan aktivitas kelenjar tiroid secara akurat. Kadar total hormone ini akan berubah bila terjadi perubaha pada jumlah TBG plasma atau pada afinitas pengikatan  TBG terhadap serum  pada pasien dengan kelainan  fungsi adenohipofisis dan sekresi TSH yang normal, dapat digunakan sebagai pilihan untuk mengetahui fungsi kelenjar tiroid, karena sekresi TSH dari adenohipofisis sangat tergantung dari kadar hormone tiroid di sirkulasi.
Meski pengukuran kadar TSH sangat berguna untuk menentukan keadaan eutiroid dan untuk titrasi  dosis tiroid; padareplacement therapy pasien dengan hipotiroidisme primer, kadar TSH  serum yang abnormal tidak selalum menunjukkan adanya disfungsi kelenjar tiroid. Pada pasien ini pengukuran kadar hormone tiroid di sirkulasi dapat membantu menentukan ada tidaknya gangguan fungsi tiroid.
Sekarang telah tersedia recombinart humanTSH (thyrotropin alpha, tirogen), dalam bentuk preparet suntikan. Preparat ini digunakan untuk mengetahui kapasitas jaringan tiroid dalam mengambil yodium radioaktif dan melepaskan tiroglobulin, pada keadaan normal atau pada keganasan. Tirogen mengantikan  bovine TSH (titropar) yang sering  menyebabkan efek samping, a.l. anaflaksis.

2.2.10 Indikasi
·         Thyroid hormone replacement therapy
Tiroksin (Na-levotiroksin; L-T4) merupakan obat pilihan utama untuk replacement therapy pada hipotiroidisme atau kritinisme, karena potensinya konsisten dan lama kerjanya panjang. Absorpsinya di usus halus bervariasi dan tidak lengkap. Beberapa obat dapat menghambat absopsi levotiroksin, a.l. sukralfat, resin kolestiramin, Fe, kalsium, Al(OH)3.  Ekskeresi bilier dapat meningkat bila dberikan bersama oabt yang menginduksi sitokrom (CYP), seperti fenitoin, karbamazepin, dan rifampin. Pada keadaan ini perlu dipikirkan penambahan dosis levotiroksin oral. Triyodotinin (Na-liotironin) dapat digunakan bila diperlukan oabt dengan mulla kerja lebih cepat, missal pada koma miksedema (meski jarang) atau untuk persiapan terapi yodium radioaktif (131I) pada kanker tiroid. Liotirnin jarang digunakan pada replacement therapy jangka panjang karena pemberiannya harus lebih sering, dibutuhkan dan besar, dan akan terjadi peningkatan T3 meski berlangsung sebentar.
Dosis levotiroksin untuk replacement therapy 112  µg sebagai dosis tunggal, untuk liotironin 50-75 µg  dibagi dalam beberapa kali pemberian. Kerana masa paruh tiroksin panjang (7 hari),keadaan kadar mantap tercapai setelah sekitar 5 minggu, karennya reevaluasi terapi dengan mengukur kadar TSH plasma sebaiknya dilakukan pada minggu-minggu ke 6-8 pengobatan. Tujuan terapi ini untuk mencapai kisarankadar TSH normal (0,5-5,0 µIU/mL), bila terapi berlebihan akan terjadi supresi TSH sampai subnormal, dan dapat menyebabkan osteoporosis dan disfungsi jantung. Pada pasien muda yang kurang patuh minum obat, levotiroksin diberikan 1 kali seminggu, dosis harus yang cukup aman dan efektif. Pasien usia lanjut deberikan dosis 25-50 µg sehari untuk mencegah eksaserbasi penyakit jantung yang tidakterdiagnosis.
·         Hipotiroidisme subklinis
Merupakan suatu hiporirodisme dengan sedikit gejala klinis yang disertai peningkatan TSH plasma. Insidensnya 15%, padausia lanjut 25%. Tetapi dilakukan dengan levotiroksinuntuk menormalkan TSH, dan hasilnya sangat bervariasi. Mungkin preparat ini bermanfaat untuk hipotiroidismesubklinis yang disertai goiter, penyakit tiroid autoimun, disfungsi kognitif atau kehamilan.
Pada pasien hipotiroidisme dengankehamilan, dosis levotiroksin sering harus dinaikan karena kadar TBG yang meningkat akibatestrogen yang meningkat dan sebagian obat dapat berpindah melalui plasenta ke janin. Kehamilan dapat menyebabkan tidak terdiagnosisnya hipotiroidisme autoimun yang baru akan timbul, atau pada pasien yang tinggal di daerah endemis (kekurangan yodium). Hipotiroidisme pada masa kehamilan dapat menyebabkan gangguan mentak dan fisik fetus. Karennya sangat dianjurkan untuk pemeriksaan TSH pada kehamilan dini (trimester I), terutama pada para ibu yang tinggal di daerah endemic.
Koma miksedema. Sindromaini jarang terjadi, dan disebabakan oleh hipotiroidisme yang hebat dan berlangsung lama. Keadaan ini termaksud gawat darurat yang meskinpun segera diobati, mortalitasnya 60%. Di Negara barat, sering terjadi pada usia lanjut di musim dingin. Factor predisposisi a.l. infeksi paru, penyakit serebrovakular, dan gagal jantubg konestif. Kecuali terapi suportif yang umum diberikan pada pasien gawat darurat, perlu diberikan juga tiroksin parenteral meningkat keadaan pasien, absorpsi per oral akan terganggu. Pemberian IV 200-300 µg levotiroksin, sesudah 24 jam diberikan lagi 100 µg. pada pasien dengan usia kurang dari 50 tahun tanpa penyakit jantung dapat diberikan bolus tiroksin 500 µg oral atau melalui nasogastric tube. Dosis tiroksin harus disesuikan dengan keadaan stabilitas hemodinamik, adanya gangguan jantung dan keadaan

2.2.11 Sediaan
Na-levotiroksin (T4) terdapat dalam bentuk tablet dan sediaan suntikan (IV). Tablet mengandung zat aktif 0,025 mg, 0.05 mg, 0,1 mg, 0,15 mg, 0,2 mg, dan 0,3 mg. Sedangkan sediaan suntikan 10 mL  mengandung 0,1 dan 0,5 mg/mL.
Na-liotironin (T3) terdapat dalam bentuk tablet 5 µg, 25 µg dan 50 µg.
Liotriks (Rasio T4;T3 = 4:10) terdapat dalam bentuk tablet 12,5 ; 25; 30; 50 µg.

2.3 Antitiroid dan Penghambat Tiroid Lainnya
            Ada 4 golongan penghambat sintesis hormon tiroid yaitu;’(1) antitiroid, yang menghambat sintesis hormon secara langsung; (2) penghambat ion, yang memblok mekanisme transpor yodida; (3) yodium dengan konsentrasi tinggi, yang dapat mengurangi sintesis dan pengeluaran hormon dari kelenjarnya dan (4) yodium radioaktif, yang merusak kelenjar dengan radiasi ionisasi. Juga ada beberapa obat yang tidak berefek pada hormon di kelenjar, tetap digunakan sebagai terapi ajuvan, bermanfaat untuk mengatasi gejala tirotoksikosis, misalnya antagonis reseptor-β dan penghambat kanal Ca++  (lihat Bab 4).

2.3.1 Antitiroid
·         MEKANISME KERJA
Antitiroid golongan tionamida, misalnya propiltiourasil, menghambat proses inkorporasi yodium pada residu tirosil dari tiroglobulin, dan juga menghambat penggabungan residu yodotirosil ini untuk membentuk yodotironin. Kerjanya dengan menghambat enzim peroksidase sehingga oksidasi ion yodida dan gugus yodotirosil terganggu.
Propiltiourasil juga menghambat deyodinasi tiroksin menjadi triyodotironin di jaringan perifer, sedangkan metimazol tidak memiliki efek ini.
·         FARMAKOKINETIK
Data farmakokinetik anti tiroid dapat dilihat pada Tabel 27-2. Tiourasil didistribusi ke seluruh jaringan tubuh dari dieksresi, melalui urin dan air susu ibu, tetapi tidak melalui tinja. Propiltiourasil pada dosis 100 mg mempunyai masa kerja 6-8 jam, sedangkan metimazol pada dosis di atas, keadaan eutiroid biasanya tercapai dalam waktu 12 minggu. Setelah ini tercapai dosis perlu dikurangi, tetapi terapi sebaiknya jangan dihentikan.
·         EFEK SAMPING
Propiltiourasil dan matimazol yang sekali menimbulkan efek samping dan bila timbul biasanya mempunyai gambaran yang sama; frekuensinya kira-kira 3% untuk propiltiourasil dan 1% untuk metimazol. Agranulositosis akibat propiltiourasil hanya timbul dengan frekuensi 0,44% dan dengan metimazol hanya 0,12%. Meski jarang, agranulositosis meriupakan efek samping serius, untuk metimazol efek samping ini bersifat tergantung dosis (dose-dependent) sedang untuk propiltiourasil tidak tergantung dosis. Reaksi yang paling sering timbul a.l/purpura dan popular nash yang kadang-kadang hilang sendiri. Gajala lain yang jarang sekali timbul adalah nyeri dan kaku sendi, terutama pada tangan dan pergelangan. Reaksi demam obat, hepatitis dan nofrilis dapat terjadi pada penggunaan propiltiourasil dosis tinggi.
·         INDIKASI
Antitiroid digunakan untuk terapi hiperoidisme, untuk mengatasi gejala klinik sambil menunggu  remisi spontan, dan sebagai persiapan operasi . juga yang diberikan dapat digunakan sebagai  komibinasi dengan yodium radioaktif untuk membpercepat perbaikan klinis sedangkan sementara menunggu efek terapi yudium radioaktif.
Selain itu, antitiroid dapat digunakan untuk hipertiroidisme yang disertai dengan pembesaran kelenjar tiroid bentuk difus maupu noduler. Efek terapi umumnya tampak setelah 3-6 minggu terapi. Besarnya efek hambatan fungsi tiroid tergantung  dari berat ringannya gaangguan fungsi sebelum pemberian obat, jumlah hormonyang tersedia dan besarnya dosis yang diberikan. Dosis terapi biasanya tidak sampai biasanya tidak sampai menghambat funsi tiroid secara total. Waaktu yang diperlukan untuk menyembuhkan setiap pasien juga berlainan.
Apabila obat yang diberikan sudah melebihi kebutuhan, maka pada pasien tampak gejala hipotirodisme, misalnya lemah, kantuk serta nyeri otot dan sendi. Kadang-kadang gejala  hipotirodisme yang timbulbegitu hebat hingga pasien perlu mendapat sediaan tiroid. Dalam keadaan ini hendaknya pemberian antitiroid ditersuskan dengan dosis yang lebih kecil, jadi selama pengobatan gejala hipotirodisme secara klinis maupun laboratoris. Perubahan fungsi tiroid menuju normal umumnya disertai pengecilan goiter. Goiter yang membesar selama pengobatan ini disebabkan oleh hipotiroidisme yang timbul karena terapi berlebihan.
Sebagian kecil pasien dengan hipertiroidisme dapat mengalami remisi spontan setelah menjalani terapi antitiroid selama 1 tahun.
Keuntungan pengunaan  pengunaan antitiroid adalah mengurangi tidakan operatif dan segala komplikasi yang mungkin timbul dan juga mengurangi terjadinya miksedema  yang menetap karena pengunaan yodium radioaktif. Selain itu semua kelainan yang ditimbulkan olehdakan yang lebih  antitiroid umumnya reversibel, sehingga obat ini bisa diberikan seme.ntara  sebagai menunggu tindakan yang lebih tepat. Pada ibu hamil dan hipertrodisme antitiroid merupakan obat terpilih (propiltiourasi), karena tiroidektomi sering menimbulkan abortus yudium radioaktif tidak dapat diberikan terutama  setelah trimester ketiga kehamilan, karena merusak kelenjar  tiroid fetus.
Antitiroid  pada umumnya tidak berefek buruk pada kehamilan, tetapi sebaiknya dosis obat ini dikurangi terutama pada trimester  ketiga kehamilan untuk terhindari  terjadinya goiter pada fetus.
Sediaan antitiroid seiring digunaka bersama sama yudium untuk persiapan operasi tiroid pada pasien hipertiroidisme. Bila hanya antitiroid saja yang diberikan maka vaskularisasi tiroid akan bertambah dan kelanjar  jadi lebih rapuh sehingga menylitkan jalan operasi. Dengan pemberian yodium vaskularisasi dan kerapuhan tersebut akan berkurang.
·         POSOLOGI
Propiltiorasi tersedia dalam bentuk tablet 50 mg. Biasanya dengan  dosis  100 mg setiap 8 jam.
Metimazol(1-menit-2-merkaptoimidazol) tersedia dalam bentuk tablet 5 mg dan 10 mg: dosis di anjurkan 30 mg sekali sehari.
Karbimzol suatu devivat metimazol, terdapat dalam bentuk tablet  5 mg dan  10 mg dosisnya sama dengan metimazol.
Bila telah diperoleh efek terapi, dosis obat di turunkan untuk menghindari timbulnya hipotiroidsme.
FARMAKONETIK ANTITIROID
Farmakokinetetik
Propiltiourasil
Metimazol
Ikatan protein plasma
75%
-
T ½
75 menit
4-6 jam
Volume distribusi
20 L
40 L
Metabolisme  pada ganguan hati 
Normal
Menurun
Metabolisme pada ganguan ginjal
Normal
1-2 kali/hari
Dosis
1-4 kali / hari
rendah

2.3.2 Penghambatan Transfor Ion Yodida
            Penghambat ion yodida adalah obat yang dapat menghambat transfor aktif ion yodida ke dalam kelenjar tiroid. Obat tersebut berupa anion monovalen yang bentuk hidratnya mempunyai ukuran hampir sebesar hidrat ion yodida, misalnya tiosianat (SCN), perkorat ( ClO4), dan fluoboral (BF4). Obat golongan ini dapat menghambat fungsi tiroid dan menimbulkan golter.
            Mekanisme kerja obata ini, dengan menghambat secara kompetitif sodium-Iodide symporter (Natrium-iodide symporter=NIS) yang dapat menghambat masuknya yodium. Perklorat kekuatannya kira-kira 10 kali kekuatan tiosianat. Tiosianat tidak ditimbun dalam tiroid, sedangkan obat lainnya ditimbun dalam tiroid. Perkloat meskipun ditimbun dalam tiroid, tidak dimetabolisme dalam kelenjar tersebut dan dieksresi dalam bentuk utuh.
            Semua obat ini mampu menghilangkan perbedaan kadar yodida dalam plasma dan tiroid. Efek goltrogeniknya dapat diatasi dengan pemberian tiroksin atau yodida.
            Dalam keadaan normal sedikit tiosianat terdapat dalam plasma, karena tiosianat terdapat pada berbagai macam makanan misalnya kol.
            Natrium dan kalium perklorat memang bermanfaat sekali untuk pengobatan hipertiroidisme, terutama yang diinduksi oleh amiodaron atau yodium. Tetapi sekarang obat ini jarang digunakan karena obat ini dapat menimbulkan anemia aplastik. Selain itu, juga sering timbul berbagai reaksi berupa demam kelainan kulit, iritasi usus dan agronulositosis.
            Litium dapat menurunkan sekresi tiroksin dan triodotironin, sehingga pada pasien mania yang menggunakan litium perlu diwaspadai kemungkinan hipotiroidisme.

2.3.3 YODIDA
            Yodida merupakan obat tertua yang digunakan untuk pengobatan hipertiroidisme sebelum ditemukan berbagai macam antitiroid. Meskipun yodida diperlukan dalam jumlah kecil untuk biosintesis hormon tiroid, dalam jumlah yang berlebihan yodida dapat menyebabkan golter dan hipotiroidisme pada orang sehat.
            Pemberian yodida pada pasien hipertiroid menghasilkan efek terapi yang nyata, dalam hal ini yodida menekan fungsi tiroid. Golter yang terjadi karena pembberian antitiroid, dapat diperbaiki dengan pemberian sediaan tiroid dan yodida, jadi dalam hal ini yodida justru memperbaiki fungsi tiroid. Peran yodida dalam tiroid adalah (1) yodium diperlukan untuk biosintesis hormon tiroid; (2) yodida menghambat proses transfor aktifnya sendiri ke dalam tiroid; (3) bila yodium di dalam tiroid terdapat dalam jumlah cukup banyak terjadi hambatan sintesis yodotironin dan yodotirosin (Wolf-Chaikoff effect).
            Yodium di dalam darah terdapat dalam bentuk yodida yang sebagian besar ditangkap oleh tiroid untuk  sintesis hormon tiroid dan sebagian lagi terdapat dalam bentuk PBI. Pengukuran kadar PBI plasma merupakan parameter yang baik sekali untuk diagonis fungsi tiroid, tetapi banyak sekali hal yang dapat mempengaruhi kadar PBI tersebut.
            Yodida terutama digunakan untuk persiapan operasi tiroid pada hipertiroidisme diatasi dengan antitiroid, yaitu biasanya diberikan selama 10 hari sebelum operasi dilakukan. Dengan cara demikian diperoleh keadaan yang optimal untuk tindakan operasi. Pemberian yodida dan antitiroid secara bersamaan dari permulaa, efeknya sering bervariasi, sehingga diperlukan antitiroid lebih banyak dalam jangka waktu lebih lama untuk mendapatkan keadaan tiroid yang optimal untuk dioperasi.
            Penggunaan yodida dan antitiroid secara bersamaan dalam farmakoterapi hipertiroidisme memberikan hasil yang bervariasi dan sukar sekali diperkirakan apakah dosis antitiroid yang diberikan sudah cukup atau belum, sehingga cara ini tidak dipakai lagi. Selain itu, selama terapi dengan yodida, pengukuran kadar PBI dan ambilan yodium radioaktif tidak lagi dapat digunakan sebagai parameter fungsi tiroid.
            Yodida sebaiknya tidak digunakan sebatgai terapi tunggal karena terapi yodida saja tidak dapat sepenuhnya mengendalikan gejala hipertiroidisme. Hambatan pada kelenjar tiroid akan hilang dalam waktu 2-8 minggu, dan bila terapi yodidia dihentikan, gejala hipertiroidisme dapat terjadi lagi, bahkan memberat,  misalnya timbul eksasibasitirotoksikosis. Yudida sebaiknya juga tidak dapat diberikan pada wanita hamil karena dapat menembus sawar darah plasenta dan menyebakan godiguter pada fetus. Preparat ini dapat digunakan untuk terapi  pencegahan di daerah goiter endemik.
            Natrium endida dari kalium yudida tersedia dalam bentuk kapsul, tablet atau larutan jenuh dalam air. Dosis sari cukup dengan 3x 0, ml.
Larutan lugol ialah campuran larutan yudium dengan kalium dida yang misih digunakan di klinik.
EFEK SAMPING. Kadang-kadang  dapat terjadi terjadi reaksi hypersensifitas terhadap yudida  atau sediaan yang mengandung yudium. Intoksikasi kronik yudida atau yudisme bereaksi dengan rasa dan terbakar dalam mulut dan faring serta rangsangan selaput lefaring. Dapat terjadi radang faring, laring dan tonsil serta kelainan ringan sampai agneform berat atau kadang-kadang  erupsi yang fatal disebut yoderma. Sedangkan gejala saluran cerna biasanya berubah iritasi yang dapat disertai dengan pendarahan. Reaksi yodismedese-dependent. Yodisme berat da meningkatkan dapat  di atasi dengan  meningkatkan ekskresi l ”dan cl”, misalnya dengan deuresis osmotik deuretik kloruretik dan loading NaCl.

2.3.4  Yodium Radioaktif
Pada proses radiasi oleh suatu unsur radioaktif dipancarkan sinar-sinar α (inti Helium), sinar β (elektron) dan sinar  ϒ (gelombang elektromagnetik yang sejenis dengan sinar X).  Umumnya sinar-sinar tersebut dapat menimbulkan kerusakn sel-sel tubuh karena terjadinya perubahan molekul di dalm sel oleh sinar yang berenergi tinggi. Dalam sinar yang di lewati sinar radioaktif terjadi ionisasi, elektron di lepaskan oleh molekul yang terkena radiasi, sehingga terbentuk ion positif dari partikel ion negatif, oleh sebab itu proses radiasi dinamai radiasi ionisasi.
Sinar α dan β daya tembusnya  kecil, ionisaisi terjadi pada daerah yang terbatas dan ion terbentuk pada daerah itu banyak sekali, sehingga effeknya dapat dibatasi pada organ saja. Sinar Y bersifat sebalikanya : daya tembusnya besar sekali, ionisasi terjadi pada jumlah yang luas meskipun jumlah yang terbentuk setempat hanya sedikit. Jadi pada dasarnya, secara kualitatif efek radiasi ionisasi dari berbagai sinar tersebut sama saja, hanya kuantitatif berbeda sehingga efek biologisny berbeda.
Ionisasi dan perubahan molekul di dalam sel menyebabkan perubahan fungsi sel tersebut.karena eratny hubungan metabolisme yudium dengan fungsi tiroid maka yodium radio aktif banyak digunakan untuk penyelidikan tiroid termasuk diagosis dan terapi penyakit terapi tiroid.
·         SIFAT FISIK DAN KIMIA
Terdapat beberapa macam yodium radio aktif umpannya 125L, 130L dan 131 L, yang paling banyak dipakai untuk maksud biologis adalah 131L. Waktu penuh 131L adalah 8hari, jadi baru kira-kira sesudah 56hari (7kali waktu penuh) kekuatan radio aktifitasnya menjadi 1%.
131L memancarkan sinar β dan ϒ. Daya tembus sinar β maximal hanya 2MM tetapi kira-kira 90% dekstruksi sel setempat disebabkan oleh sinar tersebut. sinarϒ, yang daya tenbusnya besar hanya menyebabkan kira-kira 10% dari efek terapi yang timbul dari 131L : teapi sinar ini penting untuk pengukuran isotop yang telah diserap hiroip jadi penting untuk pemberian dosis selanjutnya.
131L dapat diperoleh dalam bentuk murni, artinya semua yudiumnya bersifat radio aktif. Dosis terapinya kecil sekali, hanya kira-kira 0,03 µ G 131L, jumlah ini ssesuai dengan 4Mci (Mili ciurie). Dosis yang diperlukan untuk diagnostik lebih kecik lagi.
·         DISTRIBUSI DAN EKRESI
Distribusi radio sotop L dalam tubuh sama dengan distribusi L non radio aktif. Jumlah radio isoto yang diserapkan oleh tiroid dipengaruhi oleh jumlah L dalam diet, demikian juga ekskresinya. Karena dosis terapinya kecil maka susunan makanan sehari-hari tidak mempengaruhi jumlah radio aktif yang di tahan dalam kelenjar. Propiltiourasil dapat mengurai aktifitas 131L, sehingga dibutuhkan dosis 131L yang lebih tinggi pada pasien yang juga menggunakan propiltiourasil.
Pada hipertirouirisme jumlah radio isotop L yang diserap pada tiroid sangat meningkat, sedangkan pada pasien hipotiroidisme berkurang. Jumlah radio isotop L yang di ekskresi  dalam urin berbanding terbalik dengan jumlah radio isotop L yang diserap / ditahan oleh tiriod. Pada normotiroid kira-kira 65% dari jumlah yang diberikan telah ekskresi dalam 24jam : pada hipotoroid 85 – 90% dan pada hipotiroid 5%.
·         EFEK TERHADAP TIROID
Radioisotop-l yang diberikan pada seorang pasien ikut terpakai dalam biosintesis hormon tiroid dan terkumpul dalam koloid seperti halnya l-nonradioaktif. Sinar yang dipancarkan mempengaruhi jaringan parenkim sekeliling folikel. Pada umumnya jaringan diluar tiroid tidak sampai terpengaruh oleh radiasi tersebut. Pada dosis yang rendah sekali radioisotop tidak menimbulkan gangguan fungsi tiroid yang nyata, tetapi pada dosis yang cukup besar efek sitotoksik sinar tersebut nyata sekali. Pada gambaran histologi tampak piknosis dan nikrosis sel folikel, diikuti oleh hilangnya koloid dan terjadinya fibrosis kelenjar. Dosis rendah umumnya hanya merusak bagian sentral saja, sedangkan bagian perifer tetap berfungsi.
·         INDIKASI
Radioisotop terutama digunakan pada pasien: (1) hipertiroidisme usia lanjut atau dengan penyakit jantung; (2) penyakit Grave menetap atau kambuh setelah tiroidektomi subtotal atau setelah memakai obat antitiroid dalam jangka waktu lama; (3) goiter nodular toksik; (4) goiter multinodular non-toksik yang disertai gejala kompresi; (5) karsinoma tiroid; dan (6) sebagai alat diagnostik fungsi tiroid.
·         KONTRAINDIKASI
Bahan radioaktif tidak boleh diberikan selama kehamilan dan pada anak-anak. Yodium radioaktif sebaiknya diberikan untuk pasien yang berusia lebih dari 25 atau 30 tahun.
·         SEDIAAN
Larutan Natrium Yosida dapat diberikan oral dan IV sedangkan kapsul Natrium Yodidatersedia untuk pemberian oral. Pada setiap sediaan biasanya disebutkan jumlah dan macam campuran dalamlarutan, dosis terapi dan sebagainya.

2.4 PEMILIHAN SEDIAAN
            Tujuan penggunaan penghambat tiroid ialah untuk mengurangi aktivitas kelenjar tiroid pada pasien hipertiroid. Cara lain yang dapat ditempuh untuk tujuan yang sama adalah radiasi dan pembedahan. Dalam klinik, pemilihan cara dan obat apa yang akan digunakan untuk terapi hipertiroidisme tergantung dari pasien dan fasilitas yang tersedia.
Di Amerika Serikat natrium yodida lebih sering digunakan daripada pembedahan. Antitiroid digunakan untuk mempersiapkan pasien dengan yang akan dioperasi, terapi krisis tirotoksikosis, terapi hipertiroidisme dengan gangguan mata, dan sebagai terapi tambahan sebelum atau setelah terapi yodium radioaktif. Efek penghambatan tiroid oleh yodium biasanya tidak lama bertahan dan tidak sempurna. Antitiroid digunakan bila dikehendaki penurunan fungsi tiroid dalam waktu singkat. Efek penghambatan tiroid dari yodium radioaktif tidak timbul segera, tetapi perlu waktu beberapa hari





BAB III
HORMON PARATIROID

3.1 Kelenjar Paratiroid
Secara normal ada empat buah kelenjar paratiroid pada manusia, yang terletak tepat dibelakang kelenjar tiroid, dua tertanam di kutub superior kelenjar tiroid dan dua di kutub inferiornya (Gbr. I.1). Namun, letak masing-masing paratiroid dan jumlahnya dapat cukup bervariasi, jaringan paratiroid kadang-kadang ditemukan di mediastinum.
Setiap kelenjar paratiroid panjangnya kira-kira 6 milimeter, lebar 3 milimeter, dan tebalnya dua millimeter dan memiliki gambaran makroskopik lemak coklat kehitaman. Kelenjar paratiroid sulit untuk ditemukan selama operasi tiroid karena kelenjar paratiroid sering tampak sebagai lobulus yang lain dari kelenjar tiroid. Dengan alasan ini, sebelum manfaat dari kelenjar ini diketahui, pada tiroidektomi total atau subtotals sering berakhir dengan pengangkatan kelenjar paratiroid juga.
Pengangkatan setengah bagian kelenjr paratiroid biasanya menyebabkan sedikit kelainan fisiologik. Akan tetapi, pengangkatan pengangkatan tiga atau empat kelenjar normal biasanya akan menyebabkan hipoparatiroidisme sementara. Tetapi bahkan sejumlah kecil dari jaringan paratiroid yang tinggal biasanya sudah mampu mengalami hipertrofi dengan cukup memuaskan sehingga dapat melakukan fungsi semua kelenjar.
Kelenjar paratiroid orang dewasa terutama terutama mengandung sel utama (chief cell) yang mengandung apparatus Golgi yang mencolok plus retikulum endoplasma dan granula sekretorik yang mensintesis dan mensekresi hormon paratiroid (PTH). Sel oksifil yang lebih sedikit namun lebih besar mengandung granula oksifil dan sejumlah besar mitokondria dalam sitoplasmanya (Gbr. I.2). Pada manusia, sebelum pubertas hanya sedikit dijumpai, dan setelah itu jumlah sel ini meningkat seiring usia, tetapi pada sebagian besar binatang dan manusia muda, sel oksifil ini tidak ditemukan.
Fungsi sel oksifil masih belum jelas, sel-sel ini mungkin merupakan modifikasi atau sisa sel utama yang tidak lagi mensekresi sejumlah hormon. Sel darah merah Sel oksifil Sel utama (chief cell)
Masalah klinis
- Penurunan kadar: Hipoparatiroidisme, hiperkalsemia non paratiroid, penyakit graves, sarkoidosis.
- Peningkatan kadar: Hiperparatiroidisme primer dan skunder, hiperkalsemi, gagal ginjal kronis. 
Kelainan kelenjar paratiroid ditandai dengan peningkatan atau penurunan fungsi . Hipoparatiroidi dapat disebabkan oleh defisiensi hormon paratiroid yang bersifat autoimun, berkurangnya pembentukan hormon paratiroid, atau ketidakmampuan jaringan untuk bereaksi terhadap hormon paratiroid (pseudohipoparatiroidisme). Yang paling sering ditemui ialah hipoparatiroidi iatrogenik sesudah tiroidektomi. Adanya kecurigaan terangkatnya kelenjar paratiroid, harus diantisipasi dengan reimplantasi kelenjar tersebut baik pada muskulus sternokleidomastoideus ataupun, muskulus brakioradialis pada lengan. 1
Sedangkan hiperparatiroidi, yang di tandai dengan peningkatan hormon paratiroid kausa yang terbanyak ialah adenoma paratiroid dan hiperplasia paratiroid. Pada penderita berusia lanjut atau penderita asimtomatik dengan hiperkalsemia ringan terapi konservatif merupakan cara terbaik. Selebihnya berupa pembedahan untuk mengangkat semua jaringan yang menghasilkan hormon paratiroid. Pembedahan tersebut berupa pengangkatan adenoma, atau pada hiperplasia berupa pengangkatan tiga setengah kelenjar dengan menyisakan setengah kelenjar saja.

3.2 Sintesis dan Metabolisme Hormon Paratiroid (PTH)
Hormon paratiroid (PTH) manusia adalah suatu polipeptida linear dengan berat molekul 9500 yang mengandung 84 residu asam amino (Gbr. I.3). Strukturnya sangat mirip dengan PTH sapi dan babi. PTH disintesis sebagai bagian dari suatu molekul yang lebih besar yang mengandung 115 residu asam amino (prapo-PTH). Setelah prapo-PTH masuk ke dalam retikulum endoplasma, maka leader sequence yang terdiri dari 25 residu asam amino dikeluarkan dari terminal N untuk membentuk polipeptida pro-PTH yang terdiri dari 90 asam amino. Enam residu asam amino lainnya juga dikeluarkan dari terminal N pro-PTH di apparatus Golgi, dan produk sekretorik utama chief cells adalah polipeptida PTH yang terdiri dari 84 asam amino.
Kadar normal PTH utuh dalam plasma adalah 10-55 pg/mL. Waktu paruh PTH kurang dari 20 menit, dan polipeptida yang disekresikan ini cepat diuraikan oleh sel-sel Kupffer di hati menjadi 2 polipeptida, sebuah fragmen terminal C yang tidak aktif secara biologis dengan berat molekul 2500.

3.2.1 Efek Hormon Paratiroid
-          Efek Hormon Paratiroid pada Tulang
PTH bekerja langsung pada tulang untuk meningkatkan resorpsi tulang dan memobilisasi Ca2+. Selain meningkatkan Ca2+ plasma dan menurunkan fosfat plasma, PTH meningkatkan ekskresi fosfat dalam urin. Efek fosfaturik ini disebabkan oleh penurunan reabsorpsi fosfat di tubulus proksimal. PTH juga meningkatkan reabsorpsi Ca2+ di tubulus distal, walaupun ekskresi Ca2+ biasanya meningkat pada hiperparatiroidisme karena terjadi peningkatan jumlah yang difiltrasi yang melebihi efek reabsorpsi. PTH juga meningkatkan pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol, metabolit vitamin D yang secara fisiologis aktif. Hormon ini meningkatkan absorpsi Ca2+ dari usus, tetapi efek ini tampaknya disebabkan hanya akibat stimulasi pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol.
Hormon paratiroid kelihatannya mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi kalsium dan fosfat. Yang pertama merupakan suatu tahap cepat yang dimulai dalam waktu beberapa menit dan meningkat secara progresif dalam beberapa jam. Tahap ini diyakini disebabkan oleh aktivasi sel-sel tulang yang sudah ada (terutama osteosit) untuk meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang kedua adalah tahap yang lebih lambat, dan membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh adanya proses proliferasi osteoklas, yang diikuti dengan sangat meningkatnya reabsorpsi osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat kalsium dari tulang.
-          Efek Hormon Paratiroid Terhadap Konsentrasi Kalsium dan Fosfat dalam Cairan Ekstraselular.
Naiknya konsentrasi kalsium terutama disebabkan oleh dua efek berikut ini: (1) efek hormon paratiroid yang menyebabkan terjadinya absorpsi kalsium dan fosfat dari tulang, dan (2) efek yang cepat dari hormon paratiroid dalam mengurangi ekskresi kalsium oleh ginjal. Sebaliknya berkurangnya konsentrasi fosfat disebabkan oleh efek yang sangat kuat dari hormon paratiroid terhadap ginjal dalam menyebabkan timbulnya ekskresi fosfat dari ginjal secara berlebihan, yang merupakan suatu efek yang cukup besar untuk mengatasi peningkatan absorpsi fosfat dri tulang.
Absorpsi Kalsium dan Fosfat dari tulang yang disebabkan oleh hormon paratiroid
Hormon paratiroid mempunyai dua efek pada tulang dalam menimbulkan absorpsi kalsium dan fosfat. Pertama merupakan suatu tahap cepat yang dimulai dalam waktu beberapa menit dan meningkat secara progresif dalam beberapa jam. Tahap ini diyakini disebabkan oleh aktivasi sel-sel tulang yang sudah ada (terutama osteosit) untuk meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat. Tahap yang kedua adalah tahap yang lebih lambat, dan membutuhkan waktu beberapa hari atau bahkan beberapa minggu untuk menjadi berkembang penuh; fase ini disebabkan oleh adanya proses proliferasi osteoklas, yang diikuti dengan sangat meningkatnya reabsorpsi osteoklastik pada tulang sendiri, jadi bukan hanya absorpsi garam fosfat kalsium dari tulang.
Fase cepat absorpsi kalsium dan fosfat (osteolisis) Bila disuntikan sejumlah besar hormon paratiroid, maka dalam waktu beberapa menit konsentrasi ion kalsium dalam darah akan meningkat, jauh sebelum setiap sel tulang yang baru dapat terbentuk. Hormon paratiroid dapat menyebabkan pemindahan garam-garam tulang dari dua tempat didalam tulang:
(1) dari matriks tulang disekitar osteosit yang terletak didalam tulangnya sendiri dan (2) disekitar osteoblas yang terletak disepanjang permukaan tulang.
Pada membran sel osteoblas dan osteosit memiliki protein reseptor (Gbr I.4) untuk mengikat hormon paratiroid. Hormon paratiroid dapan mengaktifkan pompa kalsium dengan kuat, sehingga menyebabkan pemindahan garam-garam kalsium fosfat dengan cepat dari kristal tulang amorf yang terletak dekat dengan sel. Hormon paratiroid diyakini merangsang pompa ini dengan meningkatkan permeabilitas ion kalsium pada sisi cairan tulang dari membran osteositik, sehingga mempermudah difusi ion kalsium ke dalam membran sel cairan tulang. Selanjutnya pompa kalsium di sisi lain dari membran sel memindahkan ion kalsium yang tersisa tadi kedalam cairan ekstraselular.
Fase lambat absorpsi tulang dan pelepasan kalsium dan fofat (aktivasi osteoklas)
Suatu efek hormon paratiroid yang lebih banyak dikenal dan yang penjelasannya lebih baik adalah aktivasi hormon paratiroid terhadap osteoklas. Namun osteoklas sendiri tidak memiliki protein reseptor membran untuk hormon paratiroid. Sebaliknya diyakini bahwa osteoblas dan osteosit teraktivasi mengirimkan suatu sinyal sekunder tetapi tidak dikenali ke osteoklas, menyebabkan osteoklas memulai kerjanya yang biasa, yaitu melahap tulang dalam waktu berminggu-minggu atau berbulan-bulan.
Aktivasi sistem osteoklastik terjadi dalam dua tahap: (1) aktivasi yang berlangsung dari semua osteoklas yang sudah terbentuk, dan (2) pembentukan osteoklas yang baru. Kelebihan hormon paratiroid selama beberapa hari biasanya menyebabkan sistem osteoklastikberkembang dengan baik, tetapikarena pengaruh rangsangan hormon paratiroid yang kuat, pertumbuhan ini berlangsung terus selama berbulan-bulan. Setelah beberapa bulan, resorpsi osteoklastik tulang dapat menyebabkan lemahnya tulang dan menyebabkan rangsangan sekunder pada osteoblas yang mencoba memperbaiki keadaan tulang yang lemah. Oleh karena itu, efek yang terakhir dari hormon paratiroid yang sebenarnya adalah untuk meningkatkan aktivitas dari osteoblastik dan osteoklastik. Namun, bahkan pada tahap akhir, masih terjadi lebih banyak absorpsi tulang daripada pengendapan tulang dengan adanya kelebihan hormon paratiroid yang terus menerus.
Bila dibandingkan dengan jumlah total kalsium dalam cairan ekstraselular (yang besarnya kira-kira 1000 kali), ternyata tulang mengandung banyak sekali kalsium, bahkan bila hormon paratiroid menyebabkan peningkatan konsentrasi kalsium yang sangat besar dalam cairan ekstraselular, tidaklah mungkin untuk memperhatikan adanya efek yang berlangsung dengan segera pada tulang. Pemberian atau sekresi hormon paratiroid yang diperlama (dalam waktu beberapa bulan atau tahun) akhirnya menyebabkan absorpsi seluruh tulang yang sangat nyata dengan disertai pembentukan rongga-rongga yang besar yang terisi dengan osteoklas besar berinti banyak.
   Efek Hormon Paratiroid Terhadap Ekskresi Fosfat Dan Kalsium Oleh Ginjal
Pemberian hormon paratiroid menyebabkan pelepasan fosfat dengan segera dan cepat masuk kedalam urin karena efek dari hormon paratiroid yng menyebabkan berkurangnya reabsorpsi ion fosfat pada tubulus proksimal.
Hormon paratiroid juga meningkatkan reabsorpsi tubulus terhadap kalsium pada waktu yang sama dengan berkurangnya reabsorpsi fosfat oleh hormon paratiroid. Selain itu, hormon ini juga menyebabkan meningkatnya kecepatan reabsorpsi ion magnesium dan ion hydrogen, sewaktu hormon ini mengurangi reabsorpsi ion natrium, kalium dan asam amino dengan cara yang sangat mirip seperti hormon paratiroid mempengaruhi fosfat. Peningkatan absorpsi kalsium terutama terjadi di bagian akhir tubulus distal, duktus koligentes, dan bagian awal duktus koligentes.
Bila bukn oleh karena efek hormon paratiroid pada ginjal yang meningkatkan reabsorpsi kalsium, pelepasan kalsium yang berlangsung terus menerus pada akhirnya akan menghabiskan mineral tulang ini dari cairan ekstraselular dan tulang.
Pemberian hormon paratiroid menyebabkan pelepasan fosfat dengan segera dan cepat ke dalam urin karena efek dari hormon paratiroid yang menyebabkan berkurangnya reabsorpsi ion fosfat pada tubulus proksimal.
Hormon paratiroid merangsang penghematan kalsium dan mendorong pengeluaran fosfat oleh ginjal selama pembentukan urin. Di bawah pengaruh hormon Paratiroid , ginjal mampu mereabsorpsi lebih banyak kalsium yang difiltrasi, sehingga kalsium yang keluar melalui urin berkurang. Efek ini meningkatkan kadar kalsium plasma dan menurunkan pengeluaran kalsium melalui urin. (Melarutkan tulang untuk memperoleh lebih banyak kalsium akan menjadi sia-sia apabila kemudian kalsium keluar melalui urin.) Sewaktu merangsang reabsorpsi kalsium oleh ginjal. Hormon Paratiroid juga meningkatkan ekskresi fosfat urin melalui penurunan reabsorpsi fosfat. Akibatnya, hormon paratiroid menurunkan kadar fosfat plasma bersamaan dengan saat hormon tersebut meningkatkan konsentrasi kalsium.
   Efek Hormon Paratiroid pada Absorpsi Kalsium dan Fosfat Dalam Usus
Walaupun hormon paratiroid tidak memiliki efek Iangsung pada usus, hormon ini secara tidak langsung meningkatkan reabsorpsi kalsium dan fosfat dari usus halus melalui perannya dalam pengaktifan 1,25-dihidroksikolekal-siferal dari vitamin. Vitamin ini, pada gilirannya, secara langsung meningkatkan penyerapan kalsium dan fosfat oleh usus. Tetapi seperti dengan cara kerjanya di ginjal dan tulang hormon paratiroid dapat juga bekerja pada kondisi patologis atau farmakologis untuk meregulasi metabolime kalsium melalui stimulasi langsung terhadap absorpsi kalsium di usus.
Hormon paratiroid sangat berperan dalam meningktkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus dengan cara meningkatkan pembentikan 1,25 dihidroksikolekalsiferol dari vitamin D.
Efek vitamin D pada tulang serta hubungannya dengan aktivitas hormon paratiroid
Vitamin D memegang peranan penting pada absorpsi tulang dan pengendapan tulang. Pemberian vitamin D yang banyak sekali menyebabkan absorpsitulang yang sangat mirip dengan pemberian hormo paratiroid. Juga, bila tidak ada vitamin D, maka efek hormon paratiroid dalam menyebabkan absorpsi tulang sangat berkurang atau malahan dihambat. Mekanisme kerja vitamin D ini belum diketahui, tetapi diyakini merupakan hasil dari efek 1,25 dihidroksikalsiferol (yang merupakan produk utama dari vitamin D) dalam meningkatkan pengangkutan kalsium melewati membran sel.
Vitamin D dalam jumlah yang lebih kecil meningkatkan kalsifikasi tulang. Salah satu cara yang dapat dipakai untuk meningkatkan kalsifikasi adalah dengan cara meningkatkan absorpsi kalsium dan fosfat dari usus. Akan tetapi, bahkan bila tidak ada peningkatan, absorpsi akan tetap meningkatkan proses mineralisasi tulang. Sekali lagi, mekanisme terjadinya efek ini tidak diketahui, tetapi mungkin disebabkan oleh kemampuan 1,25 dihidroksikolekalsiferol untuk menyebabkan timbulnya pengangkutan ion kalsium melewati membran sel.
Sebagian besar efek hormon paratiroid pada organ sasarannya diperentarai oleh siklik adenosin monofosfat (cAMP) yang bekerja sebagai mekanisme second messenger. Dalam waktu beberapa menit setelah pemberian hormon paratiroid, konsentrasi cAMP di dalam osteosit, osteoklas, dan sel-sel sasaran lainnya meningkat. Selanjutnya, cAMP mungkin bertanggung jawab terhadap beberapa fungsi osteoklas seperti sekresi enzim dan asam-asam sehingga terjadi reabsorpsi tulang, pembentukan 1,25 dihidroksikolekalsiferol di dalam ginjal dan sebagainya. Mungkin masih ada efek-efek langsung lain dari hormon paratiroid yang efeknya tidak bergantung pada mekanisme second messenger.
Pengaturan sekresi paratiroid oleh konsentrasi ion kalsium Bahkan penurunan konsentrasi ion kalsium yang paling sedikit pun dalm cairan ekstraselular akan menyebabkan kelenjar paratiroid meningkatkan kecepatan sekresinya dalam waktu beberapa menit; bila penurunak konsentrasi ion kalsium menetap, kelenjar paratiroid akan menjadi hipertrofi, sering lim kali atau lebih. Contohnya, kelenjar paratiroid akan menjadi sangat besar pada Rikets, dimana kadar kalsium biasanya hanya tertekan sedikit; juga, kelenjar akan menjadi sangat besar saat hamil, walaupun penurunan konsentrasi ion kalsium pada cairan ekstraselular ibu sangat sulit diukur; dan kelenjar sangat membesar selama laktasi karena kalsium digunakan untuk pembentukan air susu ibu. Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan konsentrasi ion kalsium diatas nilai normal akan menyebabkan berkurangnya aktivitas dan ukuran kelenjar paratiroid. Beberapa keadaan tersebut meliputi: (1) jumlah kalsium yang berlebihan dalam diet, (2) meningkatnya vitamin D dalam diet, dan (3) absorpsi tulang yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan hormon paratiroid (contohnya absorpsi tulang yang disebabkan oleh tidak digunakannya tulang itu).
Semua efek hormon paratiroid ditujukan untuk meningkatkan kadar kalsium plasma. Dengan demikian, sekresi hormon paratiroid akan meningkat sebagai respons terhadap penurunan konsentrasi kalsium plasma dan menurun apabila kadar kalsium plasma meningkat. Sel-sel sekretorik kelenjar paratiroid sangat peka terhadap perubahan kalsium plasma bebas. Karena hormon paratiroid mengatur konsentrasi kalsium plasma, hubungan ini membentuk lengkung umpan-balik negatif sederhana untuk mengontrol sekresi hormon paratiroid tanpa melibatkan intervensi saraf atau hormon lain
Vitamin D (vitamin D3) juga berpengaruh pada metabolisme kalsium. Vitamin ini terdapat didalam diet normal dan di sintesis di kulit. Sinar ultraviolet menghasilkan vitamin D3 di kulit yang selanjutnya mengalami hidroksilasi di hati dan ginjal menjadi vitamin D3 (kalsitriol). Fungsi utama kalsitriol adalah merangsang penyerapan kalsium di dalam usus.
3.2.2 Kontrol dari hormon Paratiroid
Sekresi dari hormon paratiroid tergantung dari suatu negative feed-back mechanism yang diatur oleh kadar ion kalsium dalam plasma. Juga ada hormon lain yang ikut mengatur kadar kalsium dalam serum yaitu calcitonin atau thyrocalcitonin. Hormon ini diproduksi oleh kelenjar tiroid.
Beberapa observasi menunjukan bahwa ada hubungan antara paratiroid dengan kelenjar-kelenjar endokrin lain. Umpamanya pernah didapat hiperplasia kelenjar paratiroid pada akromegali, sindrom Cushing, dan penyakit Addison. Hipofisektomi (pada binatang) menyebabkan involutiodari kelenjar-kelenjar paratiroid, sedangkan pemberian hormon pertumbuhan (GH), adrenokortikotropin (ACTH), ekstrak lobus anterior hipofisis dan steroid-steroid adrenal mengakibatkan hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid. Tetapi mungkin pula bahwa perubahan kelenjar-kelenjar paratiroid adalah sekunder akibat perubahan kadar fosfat dalam serum yang disebabkan oleh hormon-hormon tersebut.
Hiperplasia dari kelenjar-kelenjar paratiroid terdapat dalam keadaan-keadaan dimana ada tendens dari ion kalsium untuk menurun, umpamanya pada penyakit Rachitis (atau Osteomalacia), kehamilan, hilangnya kalsium dalam darah dan insufisiensi ginjal yang disertai retensi fosfor.
3.2.3 Homeostasis Kalsium
Hormon paratiroid dan vitamin D menjadi faktor utama yang mengendalikan metabolisme kalsium.Keduanya mempunyai kerja yang meningkatkan konsentrasi kalsium serum. Hormon paratiroid terikat ke reseptor dalam tulang dan ginjal serta mengaktivasi adenilat siklase, sehingga membentuk adenosin 3’5’ monofosfat siklik (AMP siklik) yang kemudian mengatur enzim intrasel lainnya.
Hormon paratiroid bekerja atas tulang untuk mempercepat resorpsi tulang dan meningkatkan pembentukan kembali tulang dengan menginduksi aktivitas osteoklastik dan osteoblastik. Kerjanya atas tubulus renalis untuk menurunkan resorpsi fosfat dan bikarbonat serta untuk meningkatkan resorpsi kalsium. Hormon paratiroid mempunyai peranan tidak langsung dalam meningkatkan absorpsi kalsium gastrointestinalis dengan meningkatkan efek vitamin D. Vitamin D (kolekalsiferol) di bentuk dalam kulit oleh kerja sinar ultraviolet atas 7 dihidrokolesterol: kemudian ia dihidroksiklasi dalam hati ke 25-hidroksikolekalsiferol dan diaktivasi lebih lanjut oleh 1-alfahidroksilase dalam ginjal ke metabolit kuat, 1,25-dihidrosikolekalsiferol. Hormon paratiroid meningkatkan perubahan 25-hidroksikolekalsiferol ke 1,25-dihidroksikalekalsiferol. Vitamin D juga menyokong keseimbangan kalsium positif, terutama dengan meningkatkan absorpsi usus. Walaupun salah satu kerja vitamin D untuk memobilisasi kalsium dari tulang, namun ia meningkaktan kalsium dan fosfat dalam cairan ekstrasel, serta efek bersihnya untuk meningkatkan mineralisasi dan pembentukan kembali tulang (’remodeling’).

3.2.4 Pengaturan Sekresi Paratiroid Oleh Konsentrasi Ion Kalsium
Bahkan penurunan konsentrasi ion kalsium yang paling sedikit pun dalam cairan ekstraselular akan menyebabkan kelenjar paratiroid meningkatkan kecepatan sekresinya dalam waktu beberapa menit; bila penurunan konsentrasi kalsium menetap, kelenjar akan menjadi hipertrofi, sering lima kali lipat atau lebih. Contohnya, kelenjar paratiroid menjadi sangat membesar pada rikets, di mana kadar kalsium biasanya hanya tertekan sedikit; juga, kelenjar menjadi sangat besar saat hamil, walaupun penurunan konsentrasi ion kalsium dalam cairan ekstraselular ibu sangat sulit diukur; dan kelenjar sangat membesar selama laktasi karena kalsium digunakan untuk pembentukan air susu ibu. 7
Sebaliknya, setiap keadaan yang meningkatkan konsentrasi ion kalsium di atas nilai normal akan menyebabkan berkurangnya aktivitas dan ukuran kelenjar paratiroid. Beberapa keadaan tersebut meliputi:
1.      Jumlah kalsium yang berlebihan dalam diet
2.      Meningkatnya vitamin D dalam diet
3.      Absorpsi tulang yang disebabkan oleh faktor-faktor yang berbeda dengan hormon paratiroid (contohnya, absorpsi tulang yang disebabkan oleh tidak digunakannya tulang itu).
3.2.5 Hormon Paratiroid Dan Obat Yang Mempengaruhi Metabolisme Kalsium
1. Hormon Paratiroid
            Hormon paratiroid ( HPT ) berasal dari kelenjar pratiroid, merupakan hormon polipeptida rantai tunggal yang terdiri  dari 84 asam amino. Tiga puluh empat asam amino pertama merupakan bagian yang penting yang dapat menentukan aktivitas biologisnya. Aktivitas biologik HPT manusia, sapi dan babi hampir sama tetapi secara imunologik ketiganya dapat di bedakan meskipun demikian ketiganya dapat mengadakan reaksi silang dengan satu macam antibody.  Tahun 1948 ditemukan hubungan antara beberapa kelainan klinik dengan hiperfungsi paratiroid missal perubahan skelet pada pasien osteitis pada Ca2+ plasma, HPT juga mempegaruhi fosfat dan metabolism vitamin D. 

ü  Sintesis Dan Sekresi
HPT di sintesis di kelenjar paratiroid sebagai  prohormo dalam  endoplasma  reticulum dan akan bergerak ke aparat golgi hingga terjadi perubahan menjadi HPT. Kemudian hormon ini terkumpul dalam granul sebelum mengalami proteolisis , kemudian akan di sekresi ke sirkulasi. Sekresi HPT sangat di pengaruhi oleh kadar Ca2+ plasma.
Proses proteolisis HPT akan mengasilkan HPT ( 7-84) dan fragmen HPT lain yang ekskresinya terutama melalui urin. Pada gagal ginjal senyawa-senyawa ini terakumulasi, sedangkan HPT nya utuh ekskresinya melalui ginjal dan eksrarenal. HPT (7-84) ternyata dapat meghambat reseptor  HPT. Pada hipokalsemia , HPT akan lebih banyak di ekskresikan sedangkan yang dihidrolisis sedikit, pada keadaan ini pengeluaran HPT (7-84) bertambah. Bila hipokalsemia berlangsung lama sintesis HPT juga akan meningkat dan kelenjar paroid akan mengalami hidrofi.

ü  Fisiologi
            Fungsi utama HPT, mempertahankan kadar Ca2+ cairan eksrasel agar tetap stabil, melalui pengaruh utamanya pada pengaturan absorbs Ca2+ di ginjal dan mobilisali Ca2+ tulang, HPT mengatur fluksus ca dan fosfat melalui membran di tulang dan ginjal , karenanya dapat meningkatkan kadar ca dan menurunkan fosfat serum kecuali itu, HPT juga dapat mempengaruhi beberapa organ lain,  al.tulang rawan, otot polos pembulu darah, plasenta, hepar, pulau langerhans pancreas , otak, fibroblas dermis dan limfosit. Efeknya pada organ melalui 2 jenis reseptor, reseptor HPT-1 dan HPT-2 di pembuluh darah, otak, pancreas, dan plasenta.

ü  Pengaturan Sekresi
Seperti telah di terangkan di atas , sekresi hormon ini terutama di pengruhi kadar Ca2+ plasma. Bila kadar Ca2+ plasma rendah maka sekresi HPT meningkat, dan bila keadaan hipokalsemia ini berlangsung lama dapat terjadi hipertrofi dan hyperplasia kelenjar paratiroid. Bila kadar Ca2+ plasma sangat tinggi ( hiperkalsemia ) akan terjadi hal yang sebaliknya, HPT sangat rendah tetapi tetap terdetaksi. Perubahan kadar Ca2+ sedikit saja dapat menyebabkan perubahan sekresi HPT yang cukup besar. Penelitian dengan kultur sel paratiroid membuktikan bahwa keadaan hipokalsemia dapat merangsang transpor asam amino, sintesis asam nukleat dan protein, pertumbuhan sitoplasma dan sekresi HPT sebaliknya hiperkalsemia dapat menekan proses tersebut. Nampaknya Ca2+  dapat mengontrol pertumbuhan kelenjar paratiroid , sintesis dan sekresi.

ü  Efeknya Pada Kalsium
Keseimbangan Ca2+  dalam tubuh dipengaruhi oleh berbagai faktor al. vitamin D , HPT, kalsitonin, hormon pertumbuhan, hormon kelamin, tiroksin, glukokortikoid, hormon pancreas dan diet, missal fosfat anorganik dan sitrat. Ca2+ bebas diperlukan dalam proses pembekuan darah, kontraksi otot rangka dan fungsi saraf. Penurunan karena berkurangnya jumlah asetikolinnyang dilepaskan. Tetapi efek enghambat ini dapat diimbangi oleh efek eksitasi terhadap saraf dan otot karena menurunnya kadar Ca2+
            Dalam tulang ca2 di bedakan dalam 2 bentuk, sebagian dalam bentuk cadangan yang labil yang mudah dig anti, dan sebagian besar merupakan cadangan yang stabil. Keseimbangan terjadi antara ca darah kalsium tulang yang labil. Absorbs ca dari saluran cerna terjadi di bagiab proksimal intestine dan merupakan proses aktif, proses ini terhambat bila terdapat garam Ca fosfat atau Ca oksalat yang tidak larut atau oleh adanya alkali. Sebaliknya diet tinggi protein dapat menambah absorbs tersebut. Bila diet mengandung Ca berlebihan maka Ca akan diekskresikan melalui feses. Sebagian besar Ca yang dibebaskan dari resobsi tulang akan diekskresi melalui diurin.
            Hormon paratiroid dengan bantuan vitamin D secara tidak langsung menambah absorbs Ca2+ dan fosfat melalui intestine. Diduga efek ini secara keseluruhan melalui percepatan proses perubahan kalsifediol menjadi kalsitriol diginjal yang menyebabkan akumulasi vitamin D. Ekskresi  Ca melalui feses pada pasien hiperparatiroidisme akan berkurang, karena bertambahnya absorbs diintestin. Pengaruh HPT pada absobsi Ca2+  diintestin sebenarnya tidak begitu berarti bila dibandingkan dengan efeknya pada metabolism Ca diginjal dan tulang. Ambilan fosfat yang aktif diintestin dan kecepatan fluksusnya dari mukosa ke serosa juga dapat bertambah oleh pengaruh HPT.

            Kalsium Tulang. HPT dapat menambah kecepatan resorbsi Ca2+ dan fosfat dari pembagian tulang yang stabil. Pengaruh HPT pada mobilisasi Ca2+ dari tulang ke plasma hanya terjadi bila kadar Ca2+ perplasma rendah. Ca2+ plasma akan dipengaruhi oleh keseimbangan fisikokimia yang berada antara cairan ekstrasel dan bagian tulang yang labil. Jadi pada keadaan ini pertukara Ca2+  berlangsung dari plasma ke bagian tulang yang labil dan sebaliknya dari bagian ini keplasma berlangsung tanpa pengaruh Ca2+ .
            HPT dapat mempercepat resorbsi tulang dengan menambah kecepatan diferensiasi sel-sel mesenkim menjadi osteoklas dan memperpanjang masalah paruh sel-sel tersebut dengan bertambah lamanya kerja HPT jumlah osteoblas pembentuk tulang juga bertambah karenanya turn over rate dan remodeling tulang juga bertambah. Meskipun demikian aktivitas setiap osteoblas kurang normal dan HPT menghambat pembetukan kolagen yang merupakan bagian terbesar dari matriks tulang.

            Ekskresi Kalsium.  HPT dapat menambah reabsorbsi Ca2+  dan ekskresi fosfat ditubuli ginjal hal ini menyebabka kadar Ca2+  dicairan ekstra sel bertambah. Paratiroidektomi menurunkan reabsorbsi Ca ditubuli distal dan sebaliknya HPT meningkatkan. Bila kadar Ca2+  plasma terdapat dalam batas normal paratiroidektomi akan meningkatkan eskresinya diurin. Bila kadar Ca2+  plasma menurun sampai dibawah 7mg % ekskresinya menurun karena jumlah yang difiltrasi glomelurus menurun dan hampir seluruh kation ini direasbsorsi ditubuli meskipun kapasitas reabsorbinya menurun. Bila pada hewan tanpa paratiroid di beri diet tinggi Ca terus menerus dan kadar Ca plasma tetap lebih tinggi dari 7 mg%, akan terjadi hiperkalsiuria. Pemberian HPT pada hewan akan menyebabkan meningkatnya reabsorbsi Ca di tubuli dan akan terjadi penurunan ekskresi Ca dari tulang dan absorbsinya dari usus hingga kadar plasma meningkat. Bila peningkatan kadar ini lebih tinggi dari harga normal, akan terjadi hiperkalsemia yang selalu menyertai heperparatiroidisme. 
           
            Efek lain. HPT dapat menurunkan kadar Ca2+  sedangkan paratiroidektomi menambah kadar Ca2+  dalam air susu ibu dan saliv. Efek ini berlawanan dengan efek hormon tersebut terdapat Ca2+  plasma. Nampaknya karena efek inilah HPT dapat mengadakan konservasi Ca2+ dalam cairan ekstrasel yaitu dengan mengurangi kecepatan transport Ca2+ dari cairan eksrasel ke air susu da saliva. Jadi bukan saja karena efeknya pada tulang, ginjal dan usus. HPT juga dapat menurunkan kadar Ca2+ dalam lensa mata menambah ekskresi fosfat anorganik dari ginjal, karena reabsorbsi di tubuli proksimal dan di ansa henle di hambat. Ekskresi mg juga di hambat oleh HPT hingga kadar dalam darah meningkat, pada hewan tanpa paratiroid akan terjadi al yang sebaliknya. Efeknya terhadap mg dan ca mungkin sama reabsorbsi  mg di tubili meningkat dan juga mobilisasinya dari bagian tulang yang labil.

3.3 Gangguan Fungsi Paratiroid
1. Hipoparatiroidisme
            Pengangkatan atau hipofungsi kelenjar paratiroid yang tidak di ketahui sebabnya dapat menyebabkan suatu sindroma akibat langsung hipokalsemia atau akibat penurunan ambang rangsangan membra yang terpolarisasi. Gejala klinik hipoparatiroidisme akibat hipokalsemia al. tetani, parestesia, spasme laring, spasme otot dan konvulsi. Keadaan ini disebabkan Karen defisiensi Ca dan vitamin D , misalnya akibat gangguan absorbs atau jumlahnya yang tidak cukup dalam diet. Keadaan ini jarang disebabkan oleh penyakit pada kelenjarnya sendiri atau karena kelainan genetic di mana target organnya tidak member reaksi terhadap HPT ( pseudohipoparatiroidisme ).
            Gejala paling dini hipokalsemia al. parestesia ekstremitas, pada pemeriksaan fisik terhadap perangsangan mekanik saraf parifer yang menyebabkan kontraksi otot rangka yang bersagkutan, kemudian dapat di ikuti tetani, di mana terjadi spasme otot daerah karpopedal dan laring, dan konfulsi umum serta gejala lain dari susunan saraf pusat. Diduga otot polos juga dipengaruhi  terlihat dari terjadinya spasme  otot siliaris , iris, esifagus, intestinal, kandungan kemih dan bronkus. Perubahaan EKG dan timbulnya takikardia menunjukan bahwa jantung juga dipengaruhi, pada hipoparatiroidisme kronik terjadi perubahan ektodermal  yang menyebabkan rontoknya rambut pada kulit jari terlihat cekungan dan kuku mudah patah, kerusakan email gigi dan katarak mungkin terjadi gangguan psikis berupa labilitas emosi, kegelisaan depresi, delusi dan abnormalitas EEG . hipoparatiroidisme dapat di atasi dengan vitamin D , bila perlu dapat juga di tambah Ca pada dietnya.

2. Hiperparatiroid
            Hiperparatiroid primer, dapat disebabkan hipersekresikelenjar paratiroid atau karena sekresi polipetida yang menyerupai HPT yang berasal dari suatu tumor. Kadang-kadang polipeptida ini dapat dibedakan dari HPT  dengan teknik imunologik. Hiperparatiroidisme sekunder terhadap menurunnya Ca2+  plasma , dapat merangsang sekresi HPT. Keadaan ini dapat terjadi pada gangguan fungsi hati. Hipersekresi HPT apapun penyebabnya dapat menyebabkan gangguan tulang seperti osteitis fibrosa generalisasi atau penyakit von reckling hausen. Umumnya hanya 1/3 pasien hiperparatiroidisme mengalami perubahab tulang yang hebat , 1/3 lainnya hanya memperlihatkan dekalsifikasi ringan dan hanya pasien lainnya tidak ditemukan resorbsi tulang yang aktif. Pada keadaan ini mungkin asupan Ca2+  plasma mungkin normal, tetapi biasanya meningkat dan fosfat menurun. Ekskresi Ca2+  dan po4 yang meningkat, serig menyebabkan batu ginjal. komplikasi berat lainnya al.nefrokalsinosis difusi dan akhirnya insufisiensi ginjal, atau sebagai gejala sisa urolitiasis dapat juga terjadi gambaran perubahan kimia darah seolah-olah terjadi hiperparatiroidisme yakni hiperfosfaturia, hiperkalsemia, dan hipofosfatemia. Hiperkalsemia dapat merupakan penyebab gejala hiperparatiroidisme al. hipotoni otot, kelemahan otot kelemahan otot yang umum dan flatulens, anoresia, mual dan muntah, akhirnya mungkin terjadi gangguan jantung. Persentasi timbulnya ulkus paptikum dan pancreatitis, lebih tinggi pada pasien ini dari pada orang normal dan kadang-kadang mengalami gagguan neuropsikiatri. Pemeriksaan laboratorium yang spesifik adalah dengan menentukan kadar HPT plasma, tetapi hasilnya biasanya tergantung dari antibody yang di pakai.
            Terapi hiperparatiroidisme primer di lakikan dengan reaksi kelenjar yang hyperplasia atau adenoma. Pembedahan ini akan mengembalikan pasien ke keadaan euparatiroid dan mencegah kerusakan ginjal dan disolusi tulang lebih lanjut. Biasanya terjadi hipoparatiroidisme dan di perlikan vitamin D dan diet yang mengandung Ca.       Bila pada seorang pasien tidak dapat di lakukan pembedahan , dapat diberikan fosfat secara oral, diet rendah Ca, dan sejumlah cairan utuk menurunkan kadar ca plasma.

3.4 Farmakologi Hormon
HPT hanya dapat di berikan secara parenteral pemberian obat akan di rusak enzim saluran cerna. Masa paruhnya sekitar 20 menit, degradasinya terjadi di hepar dan ginjal. Dalam darah sebagian HPT terikat fraksi α-globulin plasma, ekskresinya melalui urin kurang dari 1 %.

Indikasi. Dahulu HPT digunakan untuk meningkatkan kadar Ca2+ plasma tetapi kini hipokalsemia di atasi dengan pemberian Ca2+  dan atau dengan vitamin D. suntikan HPT hanya di gunakan untuk diagnosis pseudohipoparatiroidisme. Pada pasien ini terdapat resistensi target organ terhadap HPT sehingga pemberian hormon ini tidak akaan menyebabkan peninggkatan Ca2+  plasma dan ekskresi fosfat da siklikm AMP.

Sediaan. Suntikan HPT did pat dari kelenjar paratiroid sapi. Satu unit hormon ini potensialnya sekitar 1/1.000 dari jumlah yag di butuhkan untuk meningkatkan kadar Ca2+  plasma sebesar 1mg% dalam waktu 16-18 jam.  Biasanya ini di usahakan agar berisi 100 unit/mL.

0 komentar:

Poskan Komentar

Teman-teman yang baik hati,,
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir diblog sederhana ini.
Blog ini saya buat untuk memudahkan sobat sekalian dalam mencari tugas.
Data yang dikumpulkan dari tugas-tugas kampus yang saya miliki juga meminta ijin men"COPAS" tulisan milik oranglain tentu dengan menyertakan sumbernya.
Saya harap kalian dapat meninggalkan pesan, komentar, kritik, saran atau beberapa patah kata guna menghargai blog ini.
Jangan lupa di follow yahh... ^^
Terimakasih ^^