Selasa, 22 Januari 2013

Sediaan Obat Suntik

Makalah teknologi dan formulasi sediaan steril....
BAB I
PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang
Obat suntik didefinisikan secara luas sebagai sediaan steril bebas pirogen yang dimaksudkan unutk diberikan secara parenteral. Istilah parenteral seperti yang umum digunakan, menunjukkan pemberian lewat suntikkan. Salah satu bentuk sediaan steril adalah injeksi. Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi atau suspensi atau serbuk yang harus dilarutkan atau disuspensikan terlebih dahulu sebelum digunakan yang disuntikkan dengan cara merobek jaringan ke dalam kulit atau melalui kulit atau selaput lendir. Dimasukkan ke dalam tubuh dengan menggunakan alat suntik. Suatu sediaan parenteral harus steril karena sediaan ini unik yang diinjeksikan atau disuntikkan melalui kulit atau membran mukosa ke dalam kompartemen tubuh yang paling dalam. Sediaan parenteral memasuki pertahanan tubuh yang memiliki efesiensi tinggi yaitu kulit dan membran mukosa sehingga sediaan parenteral harus bebas dari kontaminasi mikroba dan bahan-bahan beracun dan juga harus memiliki kemurnian yang dapat diterima.
1.2  Rumusan Masalah
Bagaimana cara pembuatan obat suntik?
1.3  Tujuan
Untuk mengetahui cara pembuatan obat suntik.
1.4  Manfaat
Dapat mengetahui cara pembuatan obat suntik.












BAB II
ISI

2.1 Pengertian Sediaan Injeksi (Suntik)
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspensi atau serbuk yang harus di larutkan atau di suspensikan lebih dahulu sebelum di gunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir.
2.2 Pembuatan Sediaan Injeksi
Pembuatan sediaan yang akan di gunakan untuk injeksi harus hati-hati untuk menghindari kontaminasi mikroba dan benda asing. Cara pembuatan obat yang baik (CPOB) mensyaratkan pula tiap wadah akhir injeksi harus di amati satu per satu secara fisik. Kemudian, kita harus menolak tiap wadah yang menunjukan pencemaran bahan asing yang terlihat secara visual.
Bentuk suatu obat yang di buat sebagai obat suntik tergantung pada sifat obat sendiri yang memperhatikan sifat fisika dan kimia serta pertimbangan terapetik tertentu. Pada umumnya jika obat tidak stabil dalam larutan maka kita harus membuatnya sebagai serbuk kering yang bertujuan di bentuk dengan penambahan pelarut yang tepat pada saat akan di berikan. Cara lainnya adalah membuatnya dengan bentuk suspense partikel obat  dalam pembawa yang tidak melarutkan obat. Bila obat tidak stabil dengan adanya air maka pelarut dapat dig anti sebagian atau seluruhnya dengan  pelarut yag tepat utuk obat agar  stabil. Bila obat tidak larut dalam air maka obat suntik dapat di buat sebagai suspensi air atau larutan obat dalam pelarut bukan air, seperti minyak nabati. Bila  larutan air yang di inginkan maka kita sering memakai garam yang larut dari obat yang tidak larut untuk memenuhi sifat kelarutan yang di isyaratkan. Larutan air atau larutan yang bercampur dengan darah dapat di suntikkan langsung ke dalam aliran darah. Cairan yang tidak bercampur dengan darah, seperti obat suntik berminyak atau suspensi, dapat menghambat aliran darah normal dalam system peredaran darah dan umumnya di gunakan terbatas untuk pemberian bukan intravena.
Kita dapat mengatur mulai dan lamanya obat bekerja dengan bentuk kimia obat yang digunakan, keadaan fisik obat suntik (larutan atau suspensi) , dan pembawa yang di gunakan. Obat yang sangat larut dalam cairan tubuh umumnya paling cepat diabsorbsi dan mulai kerjanya paling cepat. Artinya, obat dalam larutan air mempunyai mula kerja yang lebih cepat dari pada obat dalam larutan minyak. Obat suspensi dalam air pun bekerja lebih cepat dari pada obatsuspensi dalam minyak. Alasanya adalah sediaan dalam air lebih mudah bercampur dengan cairan tubuh sesua di suntikan dan kemudian kontak partikel  obat dengan cairan tubuh menjadi lebih cepat. Kita seringkali membutuhkan kerja obat yang lebih panjang untuk mengurangi pengulangan pemberian suntikan. Jenis suntikan dengan kerja yang panjang biasa di sebut jenis sediaan ‘depot” atau “repository”.
Dalam pembuatan obat suntik, syarat utamanya ialah obat harus streril, tidak terkontaminasi bahan asing, dan di simpan dalam wadah yang menjamin sterilitas.
2.3 Klasifikasi Sediaan Injeksi
Sediaan injeksi dibagi dalam klasifikasi sebagai berikut :
1. Larutan sejati dengan pembawa air, contohnya injeksi vitamin c
    Formulasinya sebagai berikut :
    Resep vitamin c dengan kadar   2%        5%        10%
    Vitamin c                                   2,0        5,0          10,0
    Natrium hydrogen karboat        0,9         2,4          4,8
    Tiourium                                   0,012     0,012      0,012
   Natrium klorida                          0,2            -             -
   Air untuk injeksi           ad         100 ml    100 ml    100 ml
   Pembuatan:
            Kita jenuhkan air untuk injeksi steril dengan karbondioksida selama sekurangnya 10 menit. Larutan vitamin c secara aseptic dengan tioureum, lalu tambahka natrium klorida dan natrium hydrogen karbonat sedikit demi sedikit. Selama penetrelan dengan natrium hydrogen karbonat sampai PH 6,5 - 6,7 ,kita harus mencegahnkelebihan basa setempat dengan aliran gas inert. Proses pembuatan memerlukan pencegahan dterhadap panas, cahaya, dan logam berat seperti Cu, Fe dan Mn.
2. Larutan sejati dengan pembawa minyak, contohnya injeksi kamfer
    Formulanya sebagai berikut ;
    Injeksi kamfer denga kadar    10%
    Kamfer     100%
    Minyak zaitun netral p.i   100 ml
 Sebagai pembawa oba suntik kamfer, kita dapat pula memakai eter atau campuran miyak    dan eter seperti resep di bawah ini :
Kamfer 10,0
Eter     40,0
Minyak zaiun netral p.i  100ml
Pembuatan :
            Kamfer di larutkan secara aseptik dalam eter untuk narkosa dan minyak zaitun netral steril dalam wadah setril.
3.  Larutan sejati dengan pembawa campuran, contohnnya injeksi Phenobarbital
       Formulanya sebagai berikut  ;
             Injeksi Phenobarbital natrium 10%
       Dalam farmakope Denmark:
            Phenobarbital  3,0
            Phenobarbital natrium  6,72
            Uretan 25,0
            Spiritus 94% W/W
            Gliserin steril   12,5
            Air untuk injeksi  ad   100 ml
   Pembuatan :
    Kita memakai campuran gliserin dengan alkohol untuk melarutkan ketiga zat dan     
menambahkan air p.i sedikit demi sedikit sampai larut sempurna.
   Dalam CMN dan sorgdrager :
Phenobarbital         5%            10%          20%
 Phenobarbital          5,0           10,0           20,0
 Dietilamina             1,375       2,750          5,5
Larutan petit p.i ad 100ml     100ml        100ml
Larutan petit untuk injeksi menurut CMN adalah campuran :
Alkohol 96%      260
Gliseri                  350
Air ad                 100ml
  Pembuatan:
       Kita larutkan Phenobarbital dengan dietil amina, lalu menambahkan larutan petit sedikit  demi sedikit dan mengocokannya hingga larut.
FMI memberikan resep sebagai berikut :
Amilenhidrat    0,38
Uretan               0,35
Air untuk injeksi ad   1,0 ml
4. Suspensi steril dengan pembawa air, contohnya injeksi calciferol ( vit D2 ).
   Formulannya sebagai berikut:
            Vit D2     10
            Alkohol      250
            Tween  200
            Air untuk injeksi ad    1000 ml
    Pembuatan :
       Kita larutkan vit D2 dalam alkohol dengan menambahkan tween sedikit demi sedikit hingga larutan jernih secara aseptic ( 1 satuan international = 0,025 mikrogram vit D2 muri).
5.   Suspensi steril dengan pembawa minyak contohnya injeksi bismuthsubsalisilat.
      Formulannya sbb :
    Resep bismuthsubsalisilat dalam kadar   10%  dan 17,5%
    Bismuthsubsalisilat                                  10            17,5
    Minyak zaitun netral steril ad                 100            100
   Pembuatannya :
Pembuatan secara aseptic bismuthsubsalisilat adalah menggerus dalam mortar sedikit demi sedikit dan melarutkannya dalam minyak zaitun.
6. Emulsi streil contohnya infus invelip   20%
     Resep : intravenous fat emultion 20%
            Soylbean oil   200 mg
            Glycerol     25 g
            Egg phosphatide    12 g
            Sodium oleat      0,3 g
            Sodium hydrokside qs    pH=8
            Aqua untuk injeksi     10000 ml
7. Serbuk kering di larutkan dengan air
    Pembuatan obat sutik dengan sediaan serbuk kering karena bahan padat sangat tidak stabil   
    dalam larutan.                                                                                                                
Contohnya:  injeksi solumedrol 500 mg dengan wadah yang dikemas sedemikian rupa sehingga bila petugas akan menggunakan pelarut di atasnya, maka tinggal memencet tutup vial agar pelarut turun ke bawah dan melarutkan zat aktif yang tersedia di dalamnnya.
Formulannya sbb:
Solumedrol   500 mg
Pembuatan  :
       Kita masukan serbuk solumedrol kering ke dalam vial secara septic dengan pelarut air p.i yang telah di siapkan.
2.4 Faktor-faktor Yang Mempengaruhi Pembuatan Obat Suntik
2.4.1        Pelarut dan Pembawa
Pelarut dan pembawa air utuk obat suntik
A. pelarut yang paling sering di gunakan dalam obat suntik secara besar – besaran adalah air untuk injeksi atau yang di sebut WFI ( water for injectioin ).
1) Persyaratan WFI menurut standar BP ( 20010 dan EP ( 2002) tidak boleh mengandung :
a.) Total karbonorganik tidak boleh lebih dari 0,5 mg per liter. Kemudian bila 25 ml air untuk   injeksi di tambahkan kalsium hidroksida LP maka selama 5 menit harus tetap jernih.
b.) Klorida tidak boleh lebih dari 0.5 ppm. Kemudia, bila100 ml air untuk injeksi di tambahkan 1ml peraknitrat LP , maka setelah di diamkan selama 5 menit harus tetap tidak berwarna dan jernih.
c.) Amonia tidak boleh lebih dari 0,1 ppm. Kemudian, bila 50 ml air untuk injeksi di tambahkan 1 ml kalium raksa ( II ) iodide Lp dalam suasana alkalis dan dilihat dalam tabung nassler, maka tidak memperlihatka pewarnaanyang lebih kuat dari pada pewaraan yang di beri 50 ml air yang bebas amonik P setelah penambahan 2 ml pereaksi nassler LP dan di periksa pada keadaan yang sama.
d.) Nitrat boleh lebih dari 0,2 ppm. Kemudia, 5 ml air untuk injeksi tidak bole memberikan warna biru pada batas permukaan setelah di tuangkan dengan hati – hati ke dalam 5 ml difenilalamina LP.
e.) Logam berat cu,fe,pb tidak bole lebih dari 0,1 ppm kemudian bila 100 ml air untuk injeksi di tambahka 1 tetes larutan natrium sulfide LP,maka harusntetap jernih dan tidak berwarna.
f.) Oksidator tidak boleh lebih dari 5 ppm. Kemudian, bila 100 ml air untuk injeksi di didihkan selama 3 menit serta di tambahkan 10 ml asam sulfat encer P dan 0,5 ml kalium permanganate 0,01 N , maka tidak menghilangkan sama sekali warna larutan.
g.) Bebas pirogen.
h.) pH 5,0-7,0, pemeriksaan dengan 1m ml air untuk injeksi dengan di tambahkan 2 tetes larutan merah metal LP tidak boleh memberikan warnah merah. Kemudian 10 ml air untuk injeksi dengan di tambahkan 5 tetes larutan biru bromtimol LP tidak bole memberikan warna biru.
2) Penyiapan air untuk injeksi ( WFI ) harus di simpan dalam wadah yang tertutup rapat pada temperature di bawah atau di atas kisaran temperature ideal mikroba dapat tumbuh.  Air untuk obat suntik bertujuan di guakan dalam waktu 24 jam sesudah penampungan.
3) Proses pembuatan WFI menurut USP melalui 4 tahapan.
B. Steril water of injection ( air steril untuk injeksi ) adalah air untuk injeksi yang di sterilkan dan di kemas dengan cara yang sesuai , tidak mengandung bahan antimikroba atau bahan tambahan lain.
     Syarat steril water of injection adalah cairan jernih , steril, bebas pirogen, tak bebrau, tidak berwarna, tidak berasa serta tidak mengandung logam – logam berat seperti cu,fe,pb dan zat- zat pereduksi dan lain-lain, pH 5,0-7,0.
Menurut Operation Manual  for Implementation of GMP, proses pembuatan Sterile Water for Injection melalui 3 prose sebagai berikut:
1)      Proses pertama adalah persiapan (pretreatment) uuntuk mendapatkan Water for Injection dimulai dari sumber air (sumur atau mata air) yang ditampung dan diendapkan, kemudian diberi penyaring pasir dan diberi klorin,sehingga air dapat diminum  (drinking water). Air minum disaring dengan karbomaktif, lalu disaring kembali dengan filter 5-10 µm.

2)      Proses kedua adalah proses final  treatment biasanya dilakukan Reverse osmosis dengan menggunakan chemical  softening (kation dan anion), atau menggunakan Twin Bed Column lalu disaring lagi menggunakan filter 5-10 µm kemudian disaring lagi menggunakan filter yang lebih kecil dengan ukuran filter 2 µm bila perlu menggunakan   ozonisator  atau ultraviolet  atau pemanasan dengan temperatur  diatas 70°C kemudian dimasukan dalam tangki penampung dengan temperatur 70°C kemudian di EDI (Electro deionization) atau didestilasi  dimasukkan kedalam tangki penampung lalu disaring dengan filter bakteri 0,2 µm.
3)      Proses ketiga adalah proses sterilisasi WFI dengan menggunakan auutoklaf,sehingga mendapatkan WFI steril.
C.    Bacteriostatic Water for Injection adalah air steril untuk obat suntik yang mengandung satu atau lebih  zat antimikroba yang sesuai.
     Air dikemas dalam vial tidak lebih dari 30 ml,lalu etiket harus mencantumkan nama dan perbandingan zat antimikroba  yang dikandung. Air digunakan sebagai pembawa steril dalam sedian-sediaan obat suntik dengan volume kecil(kurang dari 5 ml).
D. Sodium Chloride Injection adalah larutan steril dan isotonik natrium klorida dalam air untuk obat suntik . Larutan tidak mengandung zat antimikroba. Kandungan ion Na dan Cl dalam obat suntik kurang lebih 154 mEq per liter. Larutan dapat digunakan sebagai pembawa steril dalam pembuatan larutan atau suspensi obat untuk pemberian secara parenteral.
E. Bacteriostatic Sodium Chloride Injection adalah larutan steril dan isotonik natrium  klorida dalam air untuk obat suntik. Larutan mengandung satu atau lebih zat antimikroba yang sesuai dan harus tertera dalam etiket. Kadar sodium Chloride sebesar 0,9% untuk membuat larutan isotonis. Larutan harus dikemas dalam wadah tidak lebih besar dari 30 ml. Bila larutan digunakan sebagai pembawa ketelitin,maka kita harus melakukan pengemasan untuuk menjamin ketercampuran obat dengan pengawet yang ada dan dengan natrium klorida.
Pelarut dan Pembawa Bukan Air
Minyak: Olea neutralisata ad injectionem
Setiap farmakope mencantumkan jenis minyak tumbuhan (nabati) yang berbeda-beda. Minyak kacang (Oleum Arachidis),minyak zaitun(Oleum Olivarum),minyak mendel,minyak bunga matahari,minyak kedelai,minyak biji kapuk dan minyak wijen (Oleum sesami) adalah beberapa jenis minyak yang sering digunakan sebagai pembawa pembawa injeksi. Minyak harus netral secara fisiologis dan dapat diterima tubuh dengan baik. Persyaratan untuk ini adalah tingkat kemurniaan yang tinggi dan menunjukan bilangan asam dan bilangan peroksida yang rendah. Sebelum memakainya,kita netralkan minyak-minyak dari asam lemak bebas melalui pengocokan  denagn etanol supaya tidak merangsang. Pemakaiannya secara intravena tidak tidak dimungkinkan karena tidak tercampurkannya dengan serum darah dan dapat menyebabkan terjadinya emboli paru-paru. Oleh karena itu, penggunaannya hanya ditujukan untuk preparat injeksi intramuskular dan subkutan. Larutan atau suspensi minyak mempunyai waktu kerja lama (depo), sering sampai 1 bulan penyerapan obat dan membebaskan bahan aktifnya secara lambat.
Minyak hewan,yaitu minyak kaki sapi,diperoleh dari perdagangan hasil pemurnian  lapisan lemak kuku sapi atau tulang kaki bawah. Fraksi yang diperoleh melalui pengepresan dingin menggunakan  sebagai bahan pelarut obat injeksi  yang dapat diterima tubuh tanpa rangsangan
Minyak setelah disterilkan disebut Olea Netralisata ad Injectionem.
Tabel 3.1 Contoh beberapa obat suntik dalam minyak
Obat Suntik
Minyak
Golongan atau Kegunaan
Injeksi Desoksikortikosteron
Acetate
Injeksi Dimerkaprol

Injeksi Estradiol Sipionat
Injeksi Estradiol valerat
Injeksi Estron
Injeksi Progesteron
Injeksi Testosteron sipionat
Injeksi Testosteron enantat
Injeksi kamfer
Injeksi Bismuthsubsalisilat
Injeksi Prokaina Penisilina
Wijen
Kacang
Tanah

Biji Kapuk
Wijen atau
Jarak
Wijen
Wijen
Biji kapuk
Wijen
Zaitun
Zaitun
Steroidadrenokortikal
Antidot keracunan arsen,
emas,merkuri
Estrogen
Estrogen
Estrogen
Progestin
Androgen
Androgen
Analeptika
Sifilis
-
Antibiotik

Bukan Minyak,yaitu:
       Alkohol, Propyleneglycol, Gycerine,Paraffin liq,dan Ethyl oleat
       Alkohol, prophylenglycol, Glycerine, dan lain-lain dicampur air dapat dipakai sebagai obat suntik, disamping melarutkan, ternyata mempertinggi stabilitas obat dan larutannya pula.
2.4.2 Cara Pemberian
       Pemberian secara i.v. menimbulkan efek yang lebih cepat daripada i.m. dan lebih cepat dari pada s.c.
2.4.3 Partikel Zat Aktif dan Bentuk Polimorfisme
       Semakin halus ukuran paritkel zat aktif,semakin cepat efek yang ditimbulkan. Kemudian, bentuuk amorf memberikan efek yang lebih cepat daripada yang bentuk kristal.
2.4.4 Zat Pengawet
       Penambahan bahan pengawet tergantung pada bahan  aktif yang digunakan dalam pembuatan formula obat suntik.
2.4.5 Bentuk Sediaan
       Larutan sejati memberikan efek yang lebih cepat daripada larutan suspensi (sustained release action) atau emulsi.
2.4.6 Tonisitas Larutan Obat Suntik
       1.  Isotonis
Jika suatu larutan konsentrasinya sama besar dengan konsentrasi  dalam sel darh merah, sehingga tidak terjadi pertukaran cairan diantara keduanya, maka larutan dikatakan isotoni (ekuivalen dengan larutan 0,9% NaCl)
`      2. Isoosmotik
              Jika suatu larutan memiliki tekanan osmose sama dengan tekanan osmose serum darah, maka larutan dikatan isoosmotik (0,9% NaCl, 154 mmol Na + dan 154 mmol Cl – per liter = 308 mmol per liter, tek osmose 6,86). Pengukuran menggunakan alat osmometer dengan  kadar mol zat per liter larutan.
       3. Hipotonis
              Turunnya titik beku kecil, yaitu tekanan osmosenya lebih rendah dari serum darah, sehingga menyebabkan air akan melintasi membran sel darah merah yang semipermeabel memperbesar volume sel darah merah  dan menyebabkan peningkatan tekanan dalam sel. Tekanan yang lebih besar menyebabkan pecahnya sel-sel darah merah . Peristiwa demikian disebut hemolisa.
       4. Hipertonis
                          Turunnya titik beku besar, yaitu tekanan osmosenya lebih  tinggi dari serum darah, sehingga menyebakan air keluar dari sel darah merah melintasi membran semipermeabel  dan mengakibatkan terjadinya penciutan sel—sel darah merah. Peristiwa demikian disebut plasmolisa. Bahan pembantu mengatur  tonisitas  adalah: NaCl, Glukosa,Sukrosa,KNO3, dan NaNO3.
2.4.7 pH Obat Suntik
1. Isohidris: Kondisi suatu larutan zat yang pH-nya sesuai dengan pH fisiologis tubuh sekitar 7,4.
2. Euhidris: Usaha pendekatan pH larutan suatu zat secara teknis kearah pH fisiologis tubuh dilakukan pada zat yang tidak stabil pada pH fisiologis seperti garam alkaloid, vitamin C.
Menurut BP:
1.      Dalam pembuatan obat suntik, kita perlu menetapkan pH obat suntik.
2.      Beberapa obat suntik harus dibuat dalam jjarak pH tertentu.
3.      Untuk memperoleh pH tertentu, kita menggunakan bantuan dapar.
Fungsi larutan dapar dalam obat suntik adalah:
1.      Meningkatkan stabilitas obat, misalnya injeksi vit C dan injeksi luminal
2.      Mengurangi rasa nyeri dan iritasi
3.      Dapat pula menghambat pertumbuhan bakteri (bukan tujuan sebenarnya)
4.      Meningkatkan aktivitas fisiologis obat
Garam alkaloid dan vitamin B1 menghendaki pH 3-4, adrenalin pH 2-3,, dan luminal Na, PAS menghendaki pH lebih dari 8. Untuk mendapatkan pH tertentu yang tetap, kita menggunakan penambahan larutan dapar. Umumnya, kita menggunakan larutan dapar fosfat, larutan dapar boraks, dan larutan dapar lain yang berkapasitas dapar rendah.
2.4.8 Stabilitas
USP menginjinkan penambahan zat-zat yang sesuai kedalam sediaan yang resmi digunakan sebagai obat suntik. Tujjuannya adalah meningkatkan kestabilan asal sesuai dengan monografi masing-masing, tidak berbahaya dalam jumlah yang diberikan, dan tidak mengganggu efek terapi sediaan.Senyawa-senyawa penambah kebanyakan adalah pengawet antimikroba, dapar, penambah kelarutan, antioksidan, dan zat-zat pembantu farmasi lainnya. Zat pewarna dilarang keras diberikan dalam produk parenteral.
Persyaratan USP ialah satu atau lebih senyawa yang ditambahkan keproduk parenteral dalam wadah dosis ganda untuk mencegah pertumbuhan mikroba, tanpa mengindahkan cara sterilisasi yang digunakan kecuali jika dinyatakan dalam masing-masing monografi. Karena banyaknya pengawet yang umum bersifat toksis bila diberikan dalam jumlah berlebih atau mengiritasi bila diberikan secara parenteral, kita perlu melakukan penelitian khusus pada pemilihan zat pengawet yang sesuai.
Pada zat pengawet berikut, batas maksimum yang dinyatakan berlaku untuk penggunaan dalam produk parenteral, yaitu: zat-zat yang mengandung merkuri atau kation = 0,01%, untuk zat-zat seperti khlorobutanol, kresol, fenol = 0,5%, untuk zat-zat sulfur dioksida, sebagai antioksidan atau senyawa sulfit (ekuivalen), bisulfit, atau metabisulfit dari kalium atau natrium = 0,2%. Selain zat penambah untuk menstabilkan, udara di dalam produk obat suntik sering dengan gas inert, seperti nitrogen. Tujuannya untuk meningkatkan kestabilan produk dengan mencegah reaksi kimia antara oksigen dalam udara dengan obat.
Larutan injeksi dengan bahan obat peka oksidasi membutuhkan upaya khusus untuk menstabilkannya. Khususnya jika bahan obat harus dilindungi sedemikian rupa sehingga sterilisasi panas dapat dilakukan. Kecepatan reaksi serta penguaraian akan naik dengan meningkatnya suhu.
Agar sediaan obat injeksi tetap stabil, maka kita perlu memperhatikan hal-hal berikut:
1.    Untuk mencegah reaksi oksidasi, kita hendaknya mengupayakan agar obat tidak kontak dengan oksigen. Reaksi dapat terjadi melalui pengaliran gas netral, dalam hal ini sebaiknya dilakukan pada seluruh prosedur kerja. Jadi, pada saat menimbang, melarutkan, dan penyaringan, gas yang cocok adalah karbondioksida dan nitrogen. Pengaliran gas nitrogen seringkali tidak cukup memadai sebagai pelindung oksidasi, sehingga secara bersamaan masih ditambahkan stabilisator larutan antioksigen, misalnya larutan natirum bisulfit, natrium asamsulfoksilat, sistein, asam askorbat, dan lain-lain.
2.    Bila oksidasi dikatalisis oleh logam berat, maka penawarnya dilakukan reaksi komplekson dengan penambahan garam dinatrium EDTA.
3. Bila ada rangsangan akibat cahaya terhadap proses oksidasi, maka pembuatan dan penyimpanan larutan injeksi sebaiknya terlindung dari cahaya.
4.    Bila bahan obat tidak dapat disterilisasi dengan panas, maka tersedia penyaring bebas kuman.
5.    Bila bahan obat rusak karena hidrolisis, maka kita lebih baik meraciknya dalam ampul kering.
6.    Untuk mneghindari kontaminasi bakteri kedalam preparat injeksi, kita memerlukan penambahan bahan pengawet (antimicrobial preservative). Umumnya, kita melakukan penambahan bagi preparat injeksi takaran ganda.
2.4.9 Volume Obat Suntik
Volume yang disiapkan utnuk obat suntik tergantung pada kelarutan zat aktif, tetapi juga dipengaruhi oleh cara pemberian. Contohnya pemberian secara intrakutan harus dibuat dalam volume kecil, hanya pemberian secara intravena yang dapat diberikan dengan volume besar.
2.4.10 Biofarmasetika
Obat suntik diberikan kedalam tubuh dengan berbagai cara pemberian. Dalam pembuatan formula steril, berbagai macam cara pemberian dengan biofarmasetika saling mempengaruhi. Contohnya obat suntik dengan cara pemberian intramuskular. Jarum suntik masuk kedalam jaringan dan membran otot dengan volume umumnyadibuat tidak lebih dari 2 ml. Dengan demikian, formula obat suntik dapat dibuat dalam bentuk larutan air, suspensi air, atau minyak. Kemudian, emulsi memiliki absorpsi dan distribusi obat  berbeda.
2.4.11 Gravitasi
Faktor gravitasi sangat penting dalam pembuatan obat suntik pada golongan obat anestesi. Pada pemberian obat anestesi secara intraspinal dan inhalasi, gravitasi mempengaruhi pergerakan obat dalam mencapai sasaran. Pasien kadang membutuhkan operasi pada bagian bawah tubuh dengan sebaiknya memiringkan kepala kebawah. Kita harus melakuka pemilihan larutan yang digunakan secara benar agar pergerakan obat mencapai sasaran. Contohnya, Cinchocaine HCL 1 ml yang dilarutkan dalam 1500 ml 0,5% NaCl mendapatkan tekanan hipobarik dengan berat 1,0036 per ml pada temperatur 37°C. Sebaliknya, Cinchocaine HCL 1 ml yang dilaruutkan dalam 200 ml 6% Dektrose mendapatka tekanan hiperbarik dengan berat 1,02. Hal ini memengaruhi pergerakan obat mencapai sasaran.


2.4.12 Wadah dan Penutup
Wadah dari botol kaca dengan dari plastik mempengaruhi proses sterilisasi sediaan obat yang akan dibuat.  Wadah infus terbuat dari plastik dengan bahan polipropilen menghasilkan bentuk soft bag yang dapat disterilkan dengan cara overkill. Apabila wadah menggunakan bahan polietilen, maka menghasilkan bentuk plabottle yang tidak dapat disterilkan dengan cara overkill, tetapi dengan cara bioburden.
  
BAB III
PENUTUP

3.1 Kesimpulan
Injeksi adalah sediaan steril berupa larutan, emulsi, suspense atau serbuk yang harus di larutkan atau di suspensikan lebih dahulu sebelum di gunakan secara parenteral, suntikan dengan cara menembus, atau merobek ke dalam atau melalui kulit atau selaput lendir.
Dalam pembuatan obat suntik, syarat utamanya ialah obat harus streril, tidak terkontaminasi bahan asing, dan di simpan dalam wadah yang menjamin sterilitas.

3.2 Saran
            Dalam pembutan sediaan steril (untuk injeksi/suntik), harus diperhatikan dengan baik sifat dari obat yang akan dibuat.

2 komentar:

Saska Prasti mengatakan...

izin share ya,, :)

triiztanti mengatakan...

silahkan
jangan lupa di follow yah blog ini
:p:

Poskan Komentar

Teman-teman yang baik hati,,
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir diblog sederhana ini.
Blog ini saya buat untuk memudahkan sobat sekalian dalam mencari tugas.
Data yang dikumpulkan dari tugas-tugas kampus yang saya miliki juga meminta ijin men"COPAS" tulisan milik oranglain tentu dengan menyertakan sumbernya.
Saya harap kalian dapat meninggalkan pesan, komentar, kritik, saran atau beberapa patah kata guna menghargai blog ini.
Jangan lupa di follow yahh... ^^
Terimakasih ^^