Selasa, 22 Januari 2013

Obat Tetes Telinga

Makalah teknologi dan formulasi sediaan steril...
BAB I
PENDAHULUAN

1.1               LATAR BELAKANG
Telinga merupakan salah satu indera yang sangat penting untuk manusia. Telinga terbagi menjadi bagian luar, tengah dan dalam. Telinga luar terdiri dari pinna atau aurikula, yaitu daun kartilogo yang menangkap gelombang bunyi dan menyalurkannya ke kanal auditori eksternal (meatus), suatu lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2.5 cm merentang dari aurikula sampai membran timpani. Membran timpani (gendang telinga) adalah pembatas telinga tengah.
Membran timpani berbentuk kerucut, permukaan eksternalnya dilapisai kulit dan permuakaan internalnya dilapisi membran mukosa, membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah, memiliki tegangan, ukuran dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis. Telinga tengah terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang temporal. Turba eustachius (auditori) menghubungkan telinga tengah dengan faring. Turba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan, atau mengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.
Sediaan otik, kadang kadang dinamakansebagai sediaan telinga atau sediaan aural. Sediaan telinga biasanya ditempatkan pada kanal telinga untuk menghilangkan serumen (malam kuping, tahi kuping) atau untuk pengobatan infeksi, inflamasi atau nyeri telinga. Karena telinga terluar ditutup oleh strukutr kulit dan berperilaku seperti kondisi dermatologi lain seperti halnya permukaan tubuh, kondisi kulit diobati menggunakan beraneka ragam sediaan dermatologi.
Bentuk larutan paling sering digunakan pada telinga, suspensi dan salep masi juga didapati dalam penggunaannya. Preparat telinga biasanya diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil kedalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobati infeksi, peradangan atau rasa sakit.
1.2                RUMUSAN MASALAH
-      Apa yang perlu diperhatikan dalam pembuatan sediaan otik?
-      Apa saja sediaan untuk telinga?

1.3               TUJUAN
-      Untuk mengetahui pembuatan dan sediaan apa saja yang digunakan pada telinga.

1.4               MANFAAT
-      Dapat mengetahui pembuatan dan sediaan apa saja yang digunakan pada telinga.


Bab II
ISI

2.1     Anatomi Telinga
            Secara anatomis, telinga terbagi menjadi 3 bagian, bagian luar, tengah dan dalam. Telinga luar terdiri dari pinna atau aurikula, yaitu daun kartilago yang menangkap gelombang bunyi dan menjalurkannya ke kanal auditori eksternal (meatus), suatu lintasan sempit yang panjangnya sekitar 2,5 cm merentang dari aurikula sampai membran timpani. Membran timpani (gendang telinga) adalah pembatas telinga tengah. Membran timpani berbentuk kerucut, permukaan eksternalnya dilapisi kulit dan permukaan internalnya dilapisi membran mukosa; membran ini memisahkan telinga luar dan telinga tengah, memiliki tegangan, ukuran, dan ketebalan yang sesuai untuk menggetarkan gelombang bunyi secara mekanis. Telinga tengah terletak di rongga berisi udara dalam bagian petrosus tulang temporal. Tuba eustachius (auditori) menghubungkan telinga tengah dengan faring. Tuba yang biasanya tertutup dapat terbuka saat menguap, menelan, atau mengunyah. Saluran ini berfungsi untuk menyeimbangkan tekanan udara pada kedua sisi membran timpani.
https://lh3.googleusercontent.com/Oh0hcWBvx7HZfZrwX49E1tQGgHEOdXttQ3RJieq5WyUM9Xdzi3bqPeA9b6y3rxnYvy_xzrEIb4HRAbbkM2-Drp7Aebfs12oQeq80cOFslug0_8otRw




                                                                                                                                    







2.1     Patologi dan Bakteriologi Otitis
Salah satu kondisi patofisiologi pada telinga adalah infeksi telinga otitis akut (swimmers ear), yakni suatu kondisi inflamasi dari kanal eksternal telinga, umumnya disebabkan oleh trauma lokal (akibat cara membersihkan telinga dengan menggunakan alat runcing dan tajam), tetapi bisa juga disebabkan oleh hal-hal lain.
Manifestasi tahap preinflamasi dari otitis eksternal, seperti kelainan kulit, disertai dengan perasaan gatal pada kanal eksternal dan penumpukan unit apopilo sebaseus. Diduga hal ini akibat kehilangan lipid pada kanal auditor eksternal sehingga terjadi peningkatan kandungan air stratum korneum yang menyebabkan edema intraseluler. Tahap inflamasi akut disebabkan oleh trauma yang menginduksi radang sehingga bakteri mendapatkan akses menuju dermis.
Otomikosis adalah hasil infeksi jamur pada permukaan kanal eksternal telinga. Hal ini sering merupakan infeksi ikutan bakteri atau akibat keberadaan serumen basah (moist). Otitis media supuratif kronik adalah kondisi inflamasi dari telinga tengah. Selain itu, mungkin pula terjadi pengerasan (granulations) jaringan, fibriosis dan osteoneogenesis. Umumnya organisme penyebab otitis akut eksternal ini adalah Pseudomonas aeruginosa dan Staphylococcus aureus. Penyebab inflamasi kronik adalah Proteus spesies, Aspergillus niger, dan Candida albicans adalah penyebab otomikosis. Selain itu mungkin juga terdapat Mucormycosis dan Actiomyces, sedangkan penyebab otitis media supuriatif kronik adalah Paeruginosa dan S aureus.



2.3     Sediaan Otis
2.3.1    Definisi Tetes Telinga
v  FI III : Guttae Auriculares, tetes telinga adalah obat tetes yang digunakan untuk telinga dengan cara meneteskan obat ke dalam telinga. Kecuali dinyatakan lain, tetes telinga dibuat menggunakan cairan pembawa bukan air.
v  Ansel :  Tetes telinga adalah bentuk larutan, suspensi atau salep yang digunakan pada telinga dengan cara diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil ke dalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobati infeksi, peradangan atau rasa sakit.
v  DOM King : Tetes telinga adalah bahan obat yang dimasukkan ke dalam saluran telinga, yang dimaksudkan untuk efek lokal, dimana bahan – bahan obat tersebut dapat berupa anestetik lokal, peroksida, bahan – bahan antibakteri dan fungisida, yang berbentuk larutan, digunakan untuk membersihkan, menghangatkan, atau mengeringkan telinga bagian luar.
v  Formulasi Steril : Obat Tetes telinga adalah larutan zat aktif dalam air atau dalan pembawa lain yang digunakan dengan meneteskan ke dalam lubang telinga.
2.3.2    Sediaan Otis
1.      Larutan untuk menghilangkan serumen
Serumen adalah kombinasi sekresi keringat dari kelenjar sebaseous dan kanal eksternal auditori. Sekresi ini jika mengering akan membentuk masa semisolida lengket dan dapat mengikat sel epitelial, rambut rontok, debu dan benda asing lainnya yang masuk kedalam liang telinga. Akumulasi serumen secara berlebihan dalam telinga dapat menyebabkan rasa gatal, nyeri, dan mengganggu pendengaran; jika tidak dikeluarkan secara periodik, maka serumen dapat mengeras dan menghilangkannya akan lebih sulit serta menimbulkan rasa sakit.
Untuk melunakkan serumen yang sudah memadat digunakan minyak mineral ringan, minyak nabati, dan hidrogen peroksida. Saat ini digunakan larutan surfaktan sintetik. Salah satu dari agen ini adalah kondensat trietanol amin polipeptida oleat, yang secara komersial diformulasi dengan pembawa propilen glikol, digunakan untuk emulsifikasi serumen untuk mempermudah pengeluarannya.
Sediaan lainnya adalah karbamida peroksida ( 6,5%) dalam campuran gliserin, propilen glikol, dan asam sitrat. Pada saat berkontak dengan serumen, karbamida peroksida melepas oksigen yang merusak integritas dari wax serumen yang memadat, sehingga mudah dihilangkan..
2.      Sediaan antiseptik
Agen antiseptik sering digunakan untuk pengobatan penyakit kanal eksternal telinga. Beberapa antiseptik biasa digunakan untuk profilaksis pembedahan telinga. Sediaan antiseptik otologi dipasarkan hanya sebagai larutan asam asetat (cuka). Sediaan asam asetat (biasanya larutan 2-5%) menunjukkan aktivitas antibakteri dan antijamur. Sangat bermanfaat untuk P. Aeruginosa, Staphilooccus, B-hemolitic streptococci, Candida spesies, dan Aspergillus. Tidak ada mikroorganisme yang resisten terhadap sediaan ini. Larutan asam asetat pada telinga luar biasanya dapat ditoleransi dan nonsensitisasi, hanya instalasi ke dalam jaringan telinga tengah dapat menimbulkan rasa nyeri.
Larutan asam asetat dapat dikombinasi dengan alumunium asetat atau senyawa steroid karena bersifat antiinflamasi dan antipruritik. Ada kecenderungan larutan asam asetat menginduksi lapisan keratin yang akan meningkatkan jaringan mati dalam liang selnya. Hal ini akan mempengaruhi infeksi dan memperlambat proses penyembuhan.
Antiseptik umum, seperti povidon iodin, klorheksidin glukonat, dan heksakhlorofen dapat digunakan ototopikal untuk profilaksis pembedahan. Paling umum digunakan adalah povidon jodium karena spektrum aktivitasnya lebar terhadap mikroflora, mikrozoa, dan virus. Selama profilaksis pembedahan, antiseptik harus dicegah jangan sampai memasuki telinga tengah karena akan menghambat migrasi fibrolast selama proses penyembuhan.
3.      Sediaan antijamur
Kebanyakan infeksi otomikotik adalah konsekuensi dari pengobatan dengan antibiotika. Dengan cara pembersihan kanal eksternal telinga dan menghentikan pengobatan (dengan antibiotika), biasanya cukup untuk menghilangkan infeksi.
4.      Tetes antimikroba
Sebagai satu kelompok, obat tetes antimikroba otik paling banyak diminta dokter melalui resep. Kebanyakan sediaan ini mengandung campuran antibiotika yang dikombinasikan dengan agen steroid.
Untuk aktivitas bakterisid dapat ditambahkan asam asetat atau suatu alkohol. Beberapa dari sediaan ini mengandung asam asetat sebagai agen antibakteri utama. Kebanyakan formulasi untuk sediaan ini mempunyai pH rendah antara 3-5, sama dengan kanal esternal telinga normal.
5.      Sediaan Serbuk
Sediaan serbuk sudah digunakan sejak lama dalam pengoatan otologi. Pada awalnya digunakan dalam bentuk serbuk tabur untuk pengobatan otitis kronis, terutamanya berguna untuk rongga mastoid. Berbeda dengan sediaan otik lainnya, serbuk tidak bisa menyebabkan nyeri pada waktu pemberian. Untuk instilasi (pemasukan) obat serbuk dapat digunakan suatu alat 'in sulfator' ke dalam kanal eksternal telinga atau rongga mastoid. Sediaan antibiotika yang sesuai untuk alat insulfator  antara lain, kloramfenikol-sulfanilamid-fungizone, kloramfenikol-sulfanilamida-fungizone-hidrokortison.
6.      Sediaan Anestetika
Agen anestetika digunakan untuk menghilangkan nyeri terkait dengan infeksi, seperti otitis eksternal, otitis media, dan miringitis gelembung (bullous). Dapat pula digunakan secara lokal sebelum operasi, pada umumnya selama miringotomi pada pasien dengan membran timpanik tidak rusak atau utuh.
Kebanyakan sediaan anestetik mengandung benzokain karena benzokain diabsorbsi buruk melalui kulit sehingga terlokalisasi untuk waktu lama, hanya saja efektivitasnya sulit diramalkan. Benzokain diketahui pula menjadi penyebab reaksi hipersensitivitas.
7.      Sediaan lain
Propilenglikol adalah pembawa yang baik untuk beracam obat tetes antibiotika, menunjukkan efek dehidrasi terhadap jamur, dan meningkatkan efektivitas pengobatan antijamur lainnya. Kadang-kadang menimbulkan kontak dermatitis pada saat penggunaan pada pasien.
Kortikosteroid kadang-kadang ditambahkan pada bermacam obat tetes kombinasi ototopikal untuk mengurangi inflamasi dan gatal-gatal berkaitan dengan infeksi telinga akut. Kortikosteroid dapat pula digunakan untuk pengobatan pertama dermatosis pada kanal eksternal telinga, terutama psoriasis dan dermatitis seboreika. 
Pembuatan sediaan otik ini didasarkan pada pembuatan sediaan steril sehingga cara sterilisasi dan teknik aseptik yang digunakan sama dengan cara sterilisasi dan teknik aseptik untuk preparasi obat steril, seperti injeksi.

2.4     Cara Penggunaan Tetes Telinga
(Menyuruh orang lain untuk membantumu menggunakan tetes telinga ini akan membuat prosedur menjadi lebih mudah)
1.Bersihkan telingamu dengan kapas wajah yang basah kemudian keringkan telingamu.
2.Cuci tanganmu dengan sabun dan air
3.Hangatkan tetes telinga mendekati suhu tubuh dengan cara memegang wadahnya dalam tanganmu selama beberapa menit
4.Jika tetes telinga merupakan suspensi yang berkabut, kocok botol dengan baik selama 10 detik
5.Periksa ujung penetes untuk meyakinkan bahwa tidak pecah atau retak
6.Tarik obat ke dalam penetes
7.Miringkan telinga yang terinfeksi ke atas atau ke samping
8.Hindari menyentuh ujung penetes pada telinga atau apapun, tetes telinga dan penetesnya harus tetap terjaga bersih
9.Teteskan sejumlah yang benar ke telinga. Kemudian tarik penetesnya dari telinga agar tetesannya dapat turun ke saluran telinga.l
10.Tahan agar telingamu tetap miring selama beberapa menit atau masukkan kapas telinga yang lembut ke dalam telingamu.
11.Letakkan kembali penetesnya pada botol dan tutup kencang penutupnya. 12.Cuci tanganmu untuk menghilangkan bahan-bahan obat yang mungkin ada.


BAB III
Penutup
3.1     Kesimpulan
          Tetes telinga adalah bentuk larutan, suspensi atau salep yang digunakan pada telinga dengan cara diteteskan atau dimasukkan dalam jumlah kecil ke dalam saluran telinga untuk melepaskan kotoran telinga (lilin telinga) atau untuk mengobati infeksi, peradangan atau rasa sakit.
Penggunaan obat tetes telinga untuk antibiotic (cloramphenikol) melunakkan malam, membersihkan telinga setelah pengbatan, mengeringkan permukaan dalam telinga yang berair, antiseptic serta anestesi.
Dalam pembuatannya kita perlu perhatikan : 
1.      Pembawa air ataugliserol
2.      Viskositas.

3.2     Saran
     Sebaiknya dalam penggunaan obat tetes telinga harus diperhatikan cara penggunaannya, supaya tidak menimbulkan efek samping yang berlebihan.

2 komentar:

Meta mengatakan...

Artikelnya sangat bermanfaat

triiztanti mengatakan...

terimakasihhh...
semoga dapat membantu :p:
heheh

Poskan Komentar

Teman-teman yang baik hati,,
Terimakasih sudah meluangkan waktu untuk mampir diblog sederhana ini.
Blog ini saya buat untuk memudahkan sobat sekalian dalam mencari tugas.
Data yang dikumpulkan dari tugas-tugas kampus yang saya miliki juga meminta ijin men"COPAS" tulisan milik oranglain tentu dengan menyertakan sumbernya.
Saya harap kalian dapat meninggalkan pesan, komentar, kritik, saran atau beberapa patah kata guna menghargai blog ini.
Jangan lupa di follow yahh... ^^
Terimakasih ^^